Haluan KEPRI
Sabtu, 03 September 2011 00:00
JAKARTA--Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Leo Nababan
mempersilakan Surya Paloh meninggalkan partai itu. "Itu ingin kami
tegaskan `lebih cepat lebih baik`," katanya kepada pers di Jakarta,
Jumat (2/9), menanggapi pernyataan Surya Paloh mengenai kemungkinan
segera meninggalkan Partai Golkar.
Leo mengemukakan, keberadaan Surya Paloh di Partai Golkar saat ini
bertentangan dengan UU tentang Partai Politik yang mengharuskan memilih
salah satu partai. Surya Paloh tidak bisa mencari alasan mengenai
keberadaannya di Ormas Nasdem, karena semua orang tahu bahwa ormas itu
kemudian mendirikan Partai Nasdem.
Leo menyatakan, Partai Golkar
siap meninggalkan Surya Paloh. Pengurus DPP Golkar juga yakin apabila
Surya Paloh keluar tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap partai.
"Partai Golkar sudah berpengalaman ditinggalkan tokoh dan umumnya tidak menimbulkan pengaruh," katanya.
Leo
mengemukakan, Golkar menganggap masalah terkait keberadaan Surya Paloh
ini sebagai masalah kecil. "Kami juga meminta kader lainnya untuk
memilih apakah tetap di Golkar atau Nasdem. Kader lain siap
menggantikannya," kata Leo.
Pengurus DPP Golkar menantang Partai
Nasdem untuk membuktikan kejayaan pada Pemilu 2014. "Kami siap bersaing.
`Purwodadi kotane, sing dadi nyatane` (Purwodadi kotanya, yang jadi
nyatanya)," kata Leo bertamsil.
Sebelumnya, Surya Paloh mengaku
sudah menerima surat ultimatum dari DPP Partai Golkar. Surat itu
mengharuskannya memilih antara Partai Golkar atau Nasional Demokrat.
Golkar memberikan tenggat waktu hingga tanggal 8 September 2011.
"Kita lihat nanti. Bisa saja saya tetap di Golkar atau keluar dari Golkar. Harus ada satu
kebijakan
yang segera saya ambil dalam waktu singkat. Saya akan pikirkan yang
terbaik," kata Paloh saat bersilaturahmi ke kediaman Jusuf Kalla di
Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Kamis 1 September 2011.
Surya
Paloh kembali menegaskan, tidak ada aturan yang melarang kader Partai
Golkar aktif di ormas lain. "Tidak ada Undang-undang yang melarang orang
untuk aktif di ormas," ujar Paloh.
Ia pun merasa tidak melanggar aturan Partai Golkar selama berkecimpung di partai beringin itu selama 44 tahun.
"Bermuka Dua"
Sekretaris
Jenderal Partai Golkar, Idrus Marham, menilai kader yang masih berada
di ormas atau partai lain tidak gentle dan tidak jujur. Dia menyayangkan
posisi mereka yang "abu-abu," di satu sisi enggan keluar dari ormas lain, namun tidak berani keluar dari Partai Golkar.
"Kehidupan
kebangsaan kita hari ini menuntut di dalam berpolitik supaya gentle dan
tegas. Panduannya adalah ideologi dan pikiran-pikiran," kata Idrus.
Idrus
menegaskan tidak bisa seorang kader Golkar dalam waktu bersamaan
menjadi kader partai politik lain. Lebih khusus Nasional Demokrat yang
sudah tak ada lagi perbedaannya, apakah ormas atau partai politik.
"Semua orang tahu ormas Nasdem ya Partai Nasdem," ujarnya.
Saat
ini, Partai Golkar masih menempuh aturan yang berlaku, memberikan surat
peringatan. Dia menegaskan bahwa Partai Golkar berkomitmen dalam
menegakkan disiplin partai.
"Sikap Partai Golkar tegas," katanya.
"Surat kemarin itu ditujukan kepada ketua-ketua partai provinsi, dan
fraksi memberikan waktu hingga 11 Agustus. Sekarang ini, surat untuk
orang-orang yang belum mengundurkan diri dan kami beri waktu hingga 8
September."
Meskipun demikian, Idrus menambahkan bahwa Golkar
tidak bisa bersikap semena-mena terhadap kadernya. Dia mengatakan
semuanya harus melalui prosedur partai.
Dilarang
Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) menyatakan, seseorang tidak boleh menjadi
anggota
di dua partai sekaligus. Oleh karena itu, JK menghargai apapun pilihan
Surya Paloh nantinya, apakah akan tetap di Golkar, atau bergabung resmi
dengan Partai Nasdem.
“Tidak mungkin dobel partai. Surya Paloh
selalu mengatakan, dia tetap di Golkar. Kita hargai sikap itu. Nanti
kita lihat perkembangannya. Itu hak dia sendiri,” kata JK yang juga
mantan ketua umum Golkar di kediamannya di Jalan Brawijaya, Jakarta
Selatan, Kamis (1/9) lalu.
Terkait perbedaan antara Partai Nasdem
dan ormas Nasdem, JK pun menyerahkan semuanya kepada Nasdem. “Kita
kembalikan penafsirannya kepada Nasdem sendiri,” kata dia.
Sebelumnya,
Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi Nasdem, Jeffrie Geovanie yang
juga politisi muda Golkar pernah mengatakan, ormas Nasdem tidak berubah
menjadi partai seperti yang disangka banyak pihak, karena ormas Nasdem
dan Partai Nasdem adalah entitas yang berbeda dan terpisah.
Surya Paloh sendiri mengaku akan bersikap dalam waktu dekat, menyusul surat ultimatum yang ia terima dari DPP Golkar.
“Kita
lihat nanti. Bisa saja saya tetap di Golkar, atau keluar dari Golkar.
Harus ada satu kebijakan yang segera saya ambil dalam waktu singkat.
Saya akan pikirkan yang terbaik bagi semua dan bagi negeri ini,” kata
dia. (ant,mdi)