Djoko Suud - detikNews
Jakarta - Partai Nasdem terancam pecah. Rumor
yang berkembang, Surya Paloh sedang berusaha untuk mengambil-alih
jabatan Ketua Umum partai ini. Jika itu terjadi, ada kemungkinan
‘kekuatan’ lain dalam tubuh partai ini, Hary Tanoesoedibjo juga akan
ikut cawe-cawe. Terjadi chaos. Benarkah partai ini bakal seumur jagung?
Kabar
rencana ‘pengambil-alihan’ itu sudah merebak beberapa bulan lalu.
Patricia Rio Capella, Ketua Umum Partai Nasdem akan digeser Surya Paloh
yang menjabat sebagai Ketua Majelis Nasional Partai Nasdem itu. Partai
ini akan dimaksimalkan sebagai kendaraan politik. Maju dalam pilpres di
tahun 2014 nanti.
Partai Nasdem memang penuh kejutan. Kejutan
pertama pernyataan Nasdem tidak akan jadi partai politik ternyata
‘berpolitik’, kedua masuknya bos MNC , Hary Tanoesoedibjo, ketiga
‘bekal’ Rp 5-10 miliar’ bagi calegnya, lolosnya partai ini secara
sempurna dalam verifikasi pemilu, dan kini heboh rumor ‘pengambil-alihan
Ketua Umum Partai Nasdem.
Partai ini juga penuh kontroversi.
Saat Hary Tanoesoedibjo masuk dalam partai ini, wajahnya tampil di
televisi saban hari. Jargon gerakan perubahan diusung. Rakyat dipaksa
melihat dan merenung. Gerakan apakah gerangan? Perubahan macam apakah
itu? Tetapi tak lama kemudian tersiar santer Hary Tanoe dipanggil Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan suap pajak PT Bhakti
Investama.
Itu terjadi pada Partai Nasional Demokrat (Nasdem)
saat usianya baru seumur jagung. Embrio partai yang berasal dari Nasdem
ormas yang digagas Surya Paloh itu mulai dipertanyakan. Sebab ormasnya
melibatkan banyak tokoh lintas parpol, dideklarasikan di Senayan, dan
JK, Permadi, Sultan HB X bagian dari ormas itu. Sebagai penyemarak,
Mubarok (Partai Demokrat), dan Akbar Tandjung (Partai Golkar) datang
sebagai undangan.
Ormas Nasdem berdiri pasca kekalahan Surya
Paloh di Munas Partai Golkar di Pekanbaru. Dia kalah tipis. Itu yang
menyakitkan. Buah dari kesakitan itu mengental tatkala susunan pengurus
Partai Golkar tidak berimbang. Banyak yang tidak terakomodasi, dan
merapatlah dalam satu gerbong yang bernama Nasdem ormas itu.
Sejak
awal semua paham, ormas ini akan mimikri menjadi partai politik. Dia
akan jadi seperti Hanura atau Gerindra. Itu karena latar masalahnya
hampir serupa. Banyaknya orang Partai Golkar yang tidak terwadahi,
berlabuh di ormas ini. Sinyalemen itu menjadi nyata, tatkala beberapa
bulan kemudian ‘udang di balik batu’ itu tampil telanjang. Partai Nasdem
didaftarkan dan dideklarasikan, yang kini lolos verifikasi pemilu.
Surya
Paloh tidak muncul dalam riuh-rendahnya partai ini. Mungkin itu untuk
mencegah agar tokoh yang masih berada dalam Nasdem ormas tidak hengkang.
Sebab saat Nasdem menuju partai politik, Sultan HB X langsung cabut.
Surya Paloh di Partai Nasdem hanya sebagai Ketua Majelis Nasional,
sedang Ketua Umumnya diserahkan pada Patricia Rio Capella.
Dalam
susunan kepengurusan partai ini ada kejutan. Hary Tanoe didapuk sebagai
Ketua Dewan Pakar. Pemilik beberapa media ini pun tidak menyia-nyiakan
jabatan itu. Secara periodik Partai Nasdem disosialisasikan, dan Harry
Tanoe lantang bicara tentang alasan dan motivasinya masuk Partai Nasdem.
Apalagi sempat dirumorkan, dia akan diberi tugas penting, didapuk Ketua
Umum partai.
Partai ini sejak lahir memang gebrakannya cukup
banyak. Selain sudah menggalang para TKI di berbagai negara, partai ini
juga melaunching program yang aneh di jagat politik kita. Para calegnya
akan dimodali Rp 5 miliar – Rp 10 miliar. Ini yang dicibir berbagai
kalangan sebagai money politics yang dilembagakan. Atau kelak akan
kisruh urusan duit ketimbang mengabdikan diri pada rakyat.
Di
tengah situasi rakyat yang masih menebak-nebak sosok asli Partai Nasdem
itu, tiba-tiba santer diberitakan Hary Tanoe dipanggil Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). Semula tokoh kelahiran Surabaya itu tidak
datang karena tidak menerima undangan, tetapi setelah itu datang bersama
pengacara serta seluruh Pimpinan Redaksi media yang dimilikinya.
Ini
peristiwa langka. Para Pimred mengawal pemilik perusahaannya datang ke
KPK. Padahal sang bos yang sudah didampingi Yusril Ihza Mahendra itu
sekadar ditanyai dugaan suap pajak. KPK pun tidak memeriksanya karena
tidak terjadwal. Hary Tanoe menyebut KPK belum siap memeriksanya. Dan
polemik itu selesai tatkala pemeriksaan berjalan sesuai jadwal.
Soal
hukum, biarlah berjalan sesuai jalurnya. Namun dengan ‘insiden’ itu,
Partai Nasdem ikut terkena getah. Di berbagai daerah yang membuka dialog
politik selalu terlontar pertanyaan, ini gimana omong soal
pemberantasan korupsi, kebesaran bangsa, mau diperiksa KPK saja membawa
pasukan yang tidak seharusnya dibawa. Kalau tidak salah, kenapa tidak
menjawabya dengan jujur?
Atau ada yang menyebut, ini karakter
pengusaha yang masuk politik. Segalanya dianggap berdagang. Bisa
ditransaksikan. Tidak hanya dalam rekruitmen pengurus dan mungkin nanti
konstituen, tetapi juga sandungan jika kelak tersandung. Benarkah Partai
Nasdem memang dikondisikan seperti itu?
Di balik berbagai
kejutan dan kontroversi itu kini muncul kejutan dan kontroversi susulan.
Surya Paloh akan mengambil-alih jabatan Ketua Umum partai. Jika itu
dilakukan, dan Harry Tanoesoedibjo tidak rela dengan itu, maka kondisi
chaostis diramal akan terjadi dalam partai ini. Adakah dengan begitu
Partai Nasdem akan seumur jagung. Baru kuncup langsung layu?
Mendekati
pemilu, libido politik memang semakin menggebu. Tidak banyak yang waras
melihat diri sendiri. Terlalu banyak ‘cebol nggayuh lintang’. Yang
sadar, keinginannya muskil menjadi kenyataan.
*) Djoko Suud, pemerhati budaya tinggal di Jakarta
(asy/nrl)