Tampilkan postingan dengan label presiden. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label presiden. Tampilkan semua postingan
Rabu, 16 April 2014
Rabu, 13 November 2013
Surat Pegawai KPK Sebut SBY Terima Aliran Dana Pilpres
TRIBUNnews.com – 2 jam 46 menit lalu
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita sebuah surat yang menyebutkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima aliran dana Pemilihan Presiden 2009. Namun tidak disebutkan aliran dana tersebut berasal darimana.
Ma'mun Murod, Juru Bicara Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), mengatakan surat tersebut berasal dari seorang pegawai KPK kepada Anas Urbaningrum yang isinya menyebutkan, bahwa dalam BAP Nazaruddin tersebut nama Susilo Bambang Yudhoyono
"Pada mulanya surat ini tidak akan pernah disampaikan oleh Mas Anas, karena surat ini rahasia tapi tenyata kemudian digeledah ditemukan KPK dan kemudian surat ini dibawa KPK, maka kami merasa penting surat ini harus dibacakan secara utuh," ujar juru bicara PPI, Ma'mun Murod.
Berikut isi surat yang disita KPK berdasarkan yang dibacakan Ma'mun Murod di kediaman Anas, Selasa (12/11/2013) malam.
"Kepada yth bapak Anas urbaningrum di tempat, sebelumnya saya mohon maaf dengan surat ini dan untuk kebaikan saya dan menjaga kerahasiaan ini maaf saya tidak menyebut ID saya yang sebenarnya. Saya adalah pegawai biasa di KPK.
Pak anas yang lugu dan polos, politik itu memang benar sadis dan tidak ada hati nurani. Teman, kerabat, tidak heran kalau itu musuh dan lawan politik. Termasuk Pak Anas adalah korban politik dari petinggi-petinggi di internal sendiri (tentu dimaksud adalah petinggi demokrat, 'kutipan Ma'mun') dan dibalik ini semua adalah Pak SBY dengan kroni-kroninya.
Masalah bocor sprindik saya tersenyum tapi hati saya terluka. Pak Anas, saya adalah pengagum Pak Anas, dan dibelakang Pak Anas banyak yang support, dan kita siap mendukung perlawanan politik ini. Termasuk mahasiswa, kita sudah mulai gagas agar kebenaran itu siap kita dukung.
Pak Anas, ada hal yang penting saya informasikan. Di KPK itu ada surat pemeriksaan bendahara demokrat Nazarudin. Dalam BAP tersebut, Nazarudin melaporkan, di mana Pak SBY menerima dana untuk kampanye Pilpres 2009.
BAP tersebut sudah ditandatangani Nazarudin. Tapi, sampai sekarang ini, tidak pernah diangkat KPK. Dan tidak langsung diteruskan, sampai sekarang. Mungkin nanti bisa saya kasih soft copynya, ke Pak Anas.
Mungkin ini bisa sebagai amunisi perlawanan politik buat Bapak. Demikian surat ini saya buat sebagai bentuk pendukung dan pengagum Pak Anas. Akhir kata saya ucapkan maju terus, kebenaran pasti terungkap."
Di bawah pernyataan tersebut ada nomor handphone di pengirim surat, namun untuk tujuan kerahasiaan tidak disebutkan oleh Ma'mun. Menurut Ma'mun isi surat tersebut membuktikan bagaimana KPK telah bertindak tebang pilih dan tidak proporsional dalam melakukan pemberantasan korupsi.
Jumat, 08 November 2013
Kaleidoskop Politik: Dari Century Hingga Bu Ani
Posted by KabarNet pada 07/01/2011
Isu perpolitikan tanah air di tahun 2010 lalu berpusat di lingkaran Istana. Padahal, belum genap setahun SBY berkuasa lagi. Kemana angin politik 2011 akan bergerak?
Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin menerpa. Semakin besar kapal, semakin besar pula ombak yang akan mengguncang. Petuah lama itu kini tengah dirasakan Presiden Yudhoyono. Setelah bulan madu kepemimpinanan usai pasca Pemilu 2009, memasuki tahun 2010 ia harus menghadapi angin-angin kencang dan gelombang-gelombang nakal yang sering membuat dirinya kerepotan.
Angin kencang pertama tiba bersama pergantian tahun, saat peneliti George Junus Aditjondro merilis bukunya: Membongkar Gurita Cikeas. Seperti buku-buku sebelumnya yang menyoroti kekuasaan Presiden Soeharto dan BJ Habibie, peneliti spesialis oligarki ini menulis tentang Presiden SBY. “Saya hanya mengumpulkan keriki-kerikil itu dan menghadirkannya dalam bentuk gumpalan dan memberikan konteks,” ujarnya.
Masyarakat berharap George mengupas kasus Bank Century, tapi ternyata ia tidak telak menuduh SBY. Yang ditembak soal penahanan Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto. Kasus itu, kata dia, adalah tabir asap penghalang penyidikan Bank Century. Ia juga menyoroti peran Budi Sampoerna dan Siti Hartati Murdaya, dua nasabah kakap Bank Century sekaligus donatur terbesar Partai Demokrat.
Minggu, 31 Maret 2013
Jumat, 22 Maret 2013
Minggu, 07 Oktober 2012
Presiden SBY Dituntut Copot Kapolri
Minggu, 07 Oktober 2012 | 06:00
Beritasatu.com
Ketua KPK, Abraham Samad usai bertemu Kapolri, Timur Pradopo di Mabes Polri, Jakarta. FOTO: Afriadi Hikmal/JAKARTA GLOBE
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dituntut harus bersikap cepat terkait kekisruhan antara Polri dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terjadi Sabtu (6/10) dinihari terkait upaya polisi menangkap penyidik KPK Kompol Novel Baswedan.
"Sekarang masalahnya di Polisi. Ancam Kapolri jangan merecoki KPK atau ganti Timur Pradopo," kata Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Iberamsjah, kepada Beritasatu.com, semalam.
Menurut dia, tindakan Polri untuk menyeret Novel, penyidik kasus korupsi Korlantas Polri yang menjerat Irjen Djoko Susilo, dengan kasus yang terjadi delapan tahun semakin menjatuhkan citra korps kepolisian di mata publik.
"Kalau tidak juga bersikap maka presiden akan berhadapan dengan rakyat. Analisa politiknya, rakyat mendukung KPK hanya sebagai azas antara saja," ungkap dia.
Iberamsjah menantang sikap ketegasan dari SBY selaku kepala negara dan kepala pemerintahan dalam polemik KPK-Polri ini. Menurutnya, Presiden tidak perlu mempertemukan atau memediasi antara pimpinan Polri dan KPK, tetapi langsung beri sanksi kepada Kapolri. "Presiden bukan wasit. Tapi pengambil keputusan," ujar dia.
Jika Kapolri tidak juga dicopot, Iberamsjah menegaskan Timur Pradopo harus bersikap legowo dan tidak mengutak-atik anggota Polri yang menjadi penyidik di KPK, serta membiarkan penyidik KPK Kompol Novel Baswedan menyelesaikan tugasnya di KPK. "Mau enggak dia (Kapolri) bersikap seperti itu," tantang dia.
Ada Agenda Tersembunyi
Dalam kesempatan berbeda, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU) itu Hasyim Muzadi berpendapat jika Presiden SBY tidak segera menegur keras Kapolri berarti ada agenda tersembunyi dari pemerintah.
"Presiden seharusnya juga menegur Kapolri, namun hal tersebut tidak terjadi dan kalau dibiarkan berarti ada makna lain," kata Hasyim, di Semarang, kemarin.
Menurut Hasyim, terjadinya konflik antara KPK dengan Polri yang semakin memanas ini merupakan ekses dari negara yang belum antikorupsi dan menjadi preseden buruk. "Negara dan penyelenggara yang seharusnya melindungi serta mendukung KPK ternyata mengecewakan," sesal dia.
Hasyim menilai kriminalisasi terhadap KPK saat ini merupakan bagian dari pelemahan yang tidak berdiri sendiri serta sudah terjadi sejak jabatan Ketua KPK dijabat oleh Antasari Azhar hingga Bibit Samad dan Chandra M. Hamzah. "Dengan adanya penarikan penyidik KPK yang berasal dari kepolisian ini telah mengganggu kinerja KPK secara teknis," tandas dia.
SBY Senin Bicara
Sebaliknya, pemerintah membantah jika Presiden SBY tidak bergerak cepat dalam polemik KPK-Polri ini. Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana mengungkapkan dirinya telah dipanggil presiden untuk menjelaskan duduk perkara insiden yang terjadi Jumat (5/10) malam itu.
Menurut Denny, Presiden SBY menyatakan akan mengeluarkan pernyataan resmi terkait polemik KPK-Polri ini Senin (8/10) besok. “Saya sampaikan bahwa kejadian semalam, adalah rangkaian dari banyak kejadian, termasuk penanganan kasus korupsi simulator SIM,” papar Denny dalam pernyataan tertulis kepada Beritasatu.com.
Denny mengaku dipanggil Presiden SBY, Sabtu sore pukul 17.00 WIB tadi dan berbicara selama 45 menit. Kepada Presiden, Denny menyampaikan seluruh rangkaian polemik Polri dan KPK ini berbaur dengan isu pelemahan KPK. “Yaitu isu dari wacana perubahan UU KPK, penarikan penyidik KPK dari unsur kepolisian, dan penangkapan Novel Baswedan,” tandas Denny.
Untuk diketahui, kisruh antara Polri dan KPK mencapai puncaknya pada Jumat (5/10) malam hingga Sabtu (6/10) dinihari kemarin. Tujuh personil yang terdiri dari Kepolisian Daerah Bengkulu dan Kepolisian Daerah Jakarta Raya datang ke gedung KPK untuk menangkap Novel karena diduga sebagai pelaku penganiyayaan berat terhadap pencuri sarang burung walet yang terjadi pada tahun 2004.
Pertentangan antara KPK dan Polri berawal dari sengketa penanganan kasus dugaan korupsi Simulator di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Mabes Polri. Kemudian menjalar kepada penarikan 20 anggota Polri yang menjadi penyidik KPK karena habis masa tugasnya.
Penulis: Rangga Prakoso/ Dhana Kencana/ Wisnu Cipto
Selasa, 25 September 2012
Obama Elegan Wujudkan Impian Ras Hitam Terbelakang
Jakarta 1/10/2009 (KATAKAMI) Membedah buku yang dituliskan oleh seseorang yang memiliki jabatan sangat bergengsi dan prestisius yaitu Presiden Negara Adidaya, sebenarnya tidak terlalu sulit.
Dreams From My Father. Demikian judul buku yang dipilih Barack Hussein Obama Jr untuk buku karyanya.
Terdiri dari 19 Bab, buku karya Presiden ke-44 AS ini mengisahkan pergulatan hidupnya sebagai seorang keturunan dari ras “hitam” yang selama berabad-abad terpinggirkan dari gegap-gempitanya kehidupan “Barat”.
Karya yang lumayan menarik. Agak berat dan penjabarannya sangat detail terhadap segala sesuatu.
Untunglah kini Barack Hussein Obama Jr menjadi orang nomor satu di AS sehingga buku Dreams From My Father ini dapat menjadi referensi kuat dan luas mengenai siapa dan bagaimana Obama Jr dalam rekam jejak hidupnya didunia yang fana ini.
Yang membuat terkejut saat awal membaca buku ini adalah bertambahnya pengetahuan tentang latar belakang Obama Jr. Oh, ternyata Presiden AS yang merupakan keturunan Afrika pertama yang menjadi Presiden ini dahulu kala pernah menjadi penulis, pengajar, aktivis dan pengacara.
Ke-empat jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan sangat teruji tadi menjadi bagian tak terpisahkan dari masa lalu Obama. Pantas dalam buku karyanya, Obama dapat mengisahkan dengan alur yang cukup rinci.
Tersirat kuat bahwa sejak masa kecilnya, Obama sudah dibentuk menjadi pemikir yang cermat dalam mengamat dan menganalisa situasi, kondisi dan semua permsalahan disekelilingnya.
Dari buku Dreams From My Father ini dapat diketahui bahwa setidaknya ada tiga figur yang sangat kental pengaruhnya dalam memori dan segala rasa pada diri Obama adalah ayah kandungnya (Barack Hussein Obama Sr yang berkewarga-negaraan Kenya – Afrika, dari suku Luo), Stanley Ann Dunham (ibunya) dan Lolo Soetoro (Ayah Tirinya yang berkewarga-negaraan Indonesia).
Tapi diatas semua itu, satu nama yang sangat menonjol pengaruh kuatnya dalam jiwa Obama adalah sang ibu.
“Pada diri kedua puteri saya, setiap hari saya melihat keceriaan Ibu, kemampuannya mengagumi hal-hal. Saya tidak akan menggambarkan lebih jauh betapa dalamnya dukacita saya sepeninggal Ibu. Saya tahu bahwa dia adalah jiwa yang teramat baik dan murah hati yang pernah saya kenal, dan bahwa saya berutang padanya atas hal-hal terbaik yang ada dalam diri saya” (termuat dalam Kata Pengantar).
Obama kecil memang harus mengalami kepahitan dan kegetiran dari perpisahan ayah dan ibunya yang berlatar-belakang budaya berbeda.
Obama kecil harus berpisah dari ayah kandungnya sejak ia berumur 2 tahun (Obama lahir tanggal 4Agustus 1961).
Entah disadari atau tidak oleh Obama bahwa ada sebuah nilai luhur yang ditunjukkan secara jelas, nyata dan kuat oleh sang ibu kepada Obama selaku anak semata wayang dari pernikahannya dengan pria Kenya bernama Barack Hussein Obama.
Ann Dunham begitu rajin, sabar dan terus secara berkesinambungan meneceritakan kepada anak lelaki semata wayangnya tentang siapa dan bagaimana sang ayah.
Ann Dunham menanamkan dari kecil kepada anak lelaki kesayangannya bahwa sang ayah adalah ayah yang tetap harus dihormat, disayangi dan dibanggakan.
Dari buku Dreams From My Father ini, Obama mengisahkan bagaimana bentuk-bentuk cerita yang didengarnya dari sang ibu mengenai ayah kandungnya yaitu Obam Sr.
Walau kadang menceritakan sesuatu yang “negatif” tetapi sisi kenegatifan itu adalah sisi humanis yang justru menjadi sangat manis untuk didengar.
Terbukti disini bahwa Ann adalah perempuan yang berhati mulia.
Ia tidak mengajarkan anaknya untuk membenci sang ayah yang telah meninggalkan isteri dan anak semata wayang mereka, hanya demi membela spirit kuat membangun tanah kelahirannya di Afrika. Sebab dalam banyak kejadian, isteri yang kecewa atas keretakan atau kehancuran rumah tangga tak jarang melakukan “brain-wash” atau “cuci otak” kepada anak-anaknya agar menjauhi, membenci dan melupakan sang ayah.
“Ayahmu adalah pengemudi yang mobil yang buruk,” ibuku menjelaskan kepadaku. “Dia sering mengemudi di jalur sebelah kiri, sebagaimana orang Inggris mengemudikan mobilnya, dan kalau kau memberi komentar, dia hanya akan menggerutu tentang aturan orang Amerika yang tolol !” (termuat pada halaman 26).
Hehehe. Cara Ann menggambarkan bagaimana sifat dasar dari sang ayah kepada Obama Junior sungguh apa adanya. Tak berisi bahasa hiperbola tetapi mengalir sangat natural. Bahkan, ada kesan yang menggambarkan betapa Ann sangat sulit melepaskan kharisma, pesona dan kebersahajaan mantan suami pertamanya.
Perempuan berkulit putih ini tahu dan hapal luar kepala, apa saja yang menjadi keterbatasan dan kekurangan dari mantan suami pertamanya namun semua itu justru membuat Ann semakin menyimpan rapat nostalgia cinta yang sangat mengesankan itu jauh didasar hatinya.
“Ayahmu bisa agak dominan,” ibuku mengakui dengan senyuman. “Namun pada dasarnya dia hanyalah seseorang yang jujur. Terkadang itu yang membuat kurang kompromis” Ibuku lebih menyukai gambaran yang lebih lembut tentang ayahku (termuat pada halaman 28).
Nafas dari semua bentuk akhlak yang diajarkan Ann Dunham kepada anaknya adalah sifat menghormati orang, kebanggaan yang tak boleh lepas atas latar belakang ras dan budaya, penghormatan terhadap sesama dan nilai-nilai kemanusiaan, serta kuatnya tanggung-jawab untuk membangun atau mempertahankan kehangatan dalam ikatan keluarga inti.
Tuhan sungguh baik karena tidak membiarkan Obama kecil tumbuh menjadi anak yang liar ala produk keluarga “broken home”.
Tuhan sungguh baik karena tak ada mata rantai kehidupan yang lepas atau hilang dari perjalanan panjang Obama dalam kehidupannya.
Jika ada satu bagian dari mata rantai itu yang terlepas maka Ann Dunham sebagai seorang ibu ternyata sangat mampu untuk memastikan mata rantai demi mata rantai dari kehidupan anaknya tetap sambung-menyambung secara baik.
Dan salah satu mata rantai dari kehidupan Obama yang diuraikannya dalam buku Dream From My Father adalah sosok ayah tirinya yaitu Lolo Soetoro dan kisah masa kecilnya saat hidupselama beberapa tahun di Indonesia.
Dalam buku ini akan sangat jelas tergambarkan bagaimana dasar-dasar yang kuat dalam kepribadian Obama yang memiliki kecerdasan luar biasa sehingga ia dimampukan untuk merekam secara baik penggalan demi penggalan dari masa lalunya.
“Kami tinggal di Indonesia selama tiga tahun waktu itu, sebagai hasil dari pernikahan ibuku dengan seseorang berkebangsaan Indonesia bernama Lolo, mahasiswa lain yang ditemui ibuku di Universitas Hawaii. Nama lelaki itu berarti “gila” dalam bahasa Hawaii, yang membuat Kakek selalu tertawa geli. Namun, arti nama tersebut tidak sesuai untuk lelak itu karena Lolo memiliki tingkah laku yang baik dan lemah lembut terhadap orang lain. (termuat dalam halaman 53).
Salah satu yang cukup menarik dalam buku ini – sekaligus yang cukup menggelikan – adalah saat Obama mengisahkan bagaimana kakek dan neneknya sangat sibuk membantu persiapan Ann Dunham dan Obama Junior pindah ke Indonesia.
“Toot (yang artinya Tutu atau dalam bahasa Kenya diartikan sebagai panggilan kepada Nenek) masih saja bersikeras agar kami membawa koper yang penuh dengan perbekalan tang, susu bubuk, berkaleng-kaleng sarden. “kau tak pernah tahu mereka itu makan apa,” ujarnya tegas. Ibuku menghela napas, namun Toot memasukkan beberapa kotak permen agar aku lebih membelanya daripada Ibu (termuat dalam halaman 54).
Dan di bagian berikutnya dalam buku ini yang sangat menarik adalah saat Obama menceritakan juga bahwa semasa ia tinggal di Indonesia ini, ia pernah dibuat sampai benjol dilempar oleh teman mainnya yang bercurang curang. Akibat kejadian yang sangat tidak adil pada anak tirinya itu, Lolo Soetoro mengajarkan kepada Obama kecil cara melindungi diri dengan belajar atau latihan TINJU.
Dan Obama sangat pintar untuk menjabarkan tentang bagaimana Indonesia berdasarkan refenresi yang diterima oleh Ibunda tercintanya (Ann Dunham).
Dia menduga, semua akan sulit, kehidupan barunya itu. Sebelum meninggalkan Hawaii, dia telah mencoba belajar semua yang dapat diketahuinya tentang INDONESIA : populasinya, kelima terbesar di dunia, dengan ratusan suku dan dialek, sejarah kolonialisme, pertama oleh Belanda selama lebih dari 3 abad kemudian oleh Jepang selama masa PD II yang berusaha mengendalikan banyaknya kandungan minyak, logam dan kayu : perjuangan menuju kemerdekaan setelah perang dan muncul tokoh pejuang pembebasan bernama Soekarno sebagai presiden pertama negara itu (termuat dalam halaman 65).
(INDONESIA) Sebuah negara miskin, belum berkembang, sama sekali asing – hanya itu yang diketahuinya (Ann Dunham, red). Dia bersiap dengan sakit disentri dan demam, mandi air dingin dan berjongkok di lubang di tanah untuk buang air kecil, listrik MATI setiap beberapa pekan, panas dan nyamuk-nyamuk yang tak pernah habis. Sungguh, tak ada yang lain kecuali KETIDAK-NYAMANAN, dan dia tampak lebih tangguh daripada yang tampak, lebih tangguh daripada yang dia sendiri ketahui. Dan betapapun itu adalah bagian yang telah membuatnya tertarik kepada Lolo setelah Barack (Obama Sr) pergi, janji akan sesuatu yang baru dan penting, membantu suaminya membangun kembali negarany di suatu tempat yang ditugaskan dan menantang, jauh dari orangtuanya (termuat dalam halaman 65).
Membaca buku Obama ini menjadi sangat menyentuh hati karena ia menuliskan dengan pikiran, tutur kata dan perasaannya sendiri sebagai seorang anak manusia, tentang bagaimana relasi dirinya dengan orangtua yang sangat dicintai serta dihormatinya.
Kalau boleh menarik kesimpulan dari buku ini adalah Obama ingin berterus terang bahwa ia sungguh telah dapat mewujudkan impian sang ayah yaitu sebagai seorang anak manusia yang datang dari ras terbelakang dan terpinggirkan, Obama mampu menapaki hidup rasa percaya diri dengan jejak langkah yang terbangun dari kepribadian utuh dari sisi moralitas atas hasil didikan sang ibu yang berhati mulia.
Dreams From My Father adalah sebuah kejujuran dalam bertutur dari anak manusia yang mendapatkan nama yang sama persis dengan nama sang ayah.
Dreams From My Father adalah sebuah keterus-terangan dari seorang anak Afrika yang sejak nenek moyangnya terdahulu selalu hidup dalam kepahitan dan kegetiran seputar diskriminasi penuh hinaan dan kemiskinan panjang, ternyata mampu melangkah tegap menunjukkan “dimana sebenarnya ia harus berdiri dan berada”.
Dreams From My Father adalah sebuah keluguan dan kepolosan seorang anak yang tetap dibentuk dan ditumbuhkan sejak dini rasa cinta dan hormat yang abadi kepada orangtua walau didalam dikeluarga terjadi ketidak-harmonisan dan perpisahan yang menyakitkan.
Entah itu Barack Hussein Obama Sr, Stanley Ann Dunham dan kedua orangtua, serta Lolo Soetoro, semuanya pasti merasa sangat bangga dan larut dalam haru yang menyentuh hati terdalam karena “Little Barry” yang dulu memelihara buaya semasa hidup di Indonesia, ternyata kini menjadi seorang yang sangat berarti.
“Little Barry” kini sudah menjadi seorang Presiden dari bangsa yang besar bernama Amerika, tanah leluhur dari garis sang ibu. Dan Amerika jugalah yang menjadi tanah impian bagi kedua ayahnya (ayah kandung dan ayah tirinya) untuk menimba ilmu.
Dan yang barangkali perlu disampaikan kepada Obama terkait buku karyanya ini adalah masih tetap bertahan dan berkutatnya berbagai realita hidup yang kurang nyaman mengenai INDONESIA sampai saat ini.
Disentri. Malaria dan Demam Berdarah. Kemiskinan. Kelaparan di berbagai tempat. Dan, pemadaman listrik yang seenaknya seperti masa kelam di zaman Gerakan 30 September. Jadi, saat Obama kini telah mewujudkan impiannya menjadi kenyataan. Sekarang giliran INDONESIA mewujudkan hal-hal yang terabaikan selama puluhan tahuin.
Agar jangan ada memoar buku dari penulis-penulis berikutnya di tahun-tahun mendatang bahwa semua “hal tak enak” yang bercokol di Indonesia sejak puluhan tahun ini, ternyata masih tetap awet dan langgeng merongrong penderitaan hidup rakyat Indonesia.
(MS)
Kamis, 26 Juli 2012
Presiden SBY Terancam Jadi Tersangka
LENSAINDONESIA.COM: Presiden sby harus bertanggung jawab atas ucapannya yang mengatakan ada ‘kongkalikong’ antara pejabat kementerian dengan DPR.
Hal ini dilakukan melalui proyek-proyek APBN yang ada di kementerian.
Jika tidak segera melaporkan ke aparat penegak hukum, SBY bisa dikenakan pasal 55 dan 56 KUHP.
Dimana, dalam pasal itu, diatur ancaman hukuman terhadap pihak-pihak yang turut serta dalam sebuah kejahatan.
Presiden SBY pun bisa menjadi tersangka.
“Seperti kasus Sisminbakum, yang tertuduh melakukan korupsi adalah anak buah saya, Pak Romli Atmasasmita. Sementara itu, saya atasannya dan saya menteri, saya dianggap terlibat dan bisa diperiksa. Demikian dengan presiden, jika anak buahnya jadi tersangka dan dia tidak melaporkannya ke polisi, ya bisa jadi tersangka,” ujar mantan Menkum HAM, Yusril Ihza Mahendra, kepada LICOM, Selasa (24/07).
Mantan tersangka kasus Sisminbakum ini pun meminta SBY bertindak kongkrit, bukan hanya menggertak saja.
“Lakukan aksi politik, pecat pejabat atau menteri yang diduga terlibat kongkalikong. Setelah itu, proses hukum,” tegas Yusril.
Dengan demikian, lanjut Yusril, posisi SBY aman dan tidak akan menjadi tersangka.
Kamis, 05 Juli 2012
Sukarno
Prominent among Asian political leaders, Sukarno was admired and praised to be the father of the Indonesian nation, who dedicated his life to unite his people and guide his country to freedom. As a statesman and first president of Indonesia, he attempted to consolidate his multi-cultural nation and envisioned a future for the Indonesian society to be freed from dependence on foreign capital and to be a community of classless and happy Indonesians.
Fighting for independence against the Dutch, he became a true national figure of Indonesia who devoted himself to political agitation. His five principles: nationalism, internationalism, democracy, social prosperity, and belief in a single god, still remain the official aims of Indonesia.
The Mayer Mint–Germany issued the Sukarno Commemorative Coin in the Father of Nation series, to remind us of the preservation of national unity and the restoration of a sense of national identity of this Father of the Indonesian nation. The coins are all officially endorsed by the Yayasan Gema Indonesia - a charity foundation run by the Sukarno Family, aiming to improve the lives of Indonesian street children.
Rabu, 20 Juni 2012
Liem Soei Liong: ‘Penjaga Telur Emas’ Bagi Kekuasaan Jenderal Soeharto (1)
In Politik, Ekonomi, Historia on June 11, 2012 at 4:46 PM
MESKI Liem Soei Liong lahir hampir 5 tahun lebih awal dan meninggal lebih lambat 4 tahun dari Jenderal Soeharto, keduanya seakan ditakdirkan hampir seumur hidup –sejak mula pertama bertemu di pertengahan tahun 50-an– bersama dalam kekuasaan negara di Indonesia. Satu dalam kancah kekuasaan politik dan pemerintahan, sedang satu lainnya dalam kekuasaan ekonomi. Minggu, 10 Juni 2012, kemarin, Liem Soei Liong yang juga dikenal sebagai Sudono Salim, meninggal dunia di Singapura. Menyusul Jenderal Soeharto,yang meninggal dunia lebih dulu pada 27 Januari 2008.

Sejak pertengahan tahun 1940-an, Liem Soei Liong –yang baru datang ke
Indonesia di tahun 1937, saat berusia 21 tahun– selain berdagang
kelontong dan menjual secara kredit, membantu memasok kebutuhan tentara
nasional Indonesia. Untuk tentara, Liem Soei Liong memasok pakaian,
obat-obatan, sabun, makanan sampai peralatan militer. Ini kemudian
berlanjut dengan kegiatan membekali Divisi Diponegoro di tahun 1950-an
yang berkedudukan di Semarang. “Seorang Letnan Kolonel yang bernama
Soeharto mempunyai tugas mengurus suplai divisi itu”, tulis Ahmad D.
Habir dalam buku Donald K. Emerson, Indonesia Beyond Soeharto (1999). “Dalam urusan awal ini, antara orang Tionghoa imigran dan perwira pribumi, terletaklah benih kerjasama seumur hidup”.
MESKI Liem Soei Liong lahir hampir 5 tahun lebih awal dan meninggal lebih lambat 4 tahun dari Jenderal Soeharto, keduanya seakan ditakdirkan hampir seumur hidup –sejak mula pertama bertemu di pertengahan tahun 50-an– bersama dalam kekuasaan negara di Indonesia. Satu dalam kancah kekuasaan politik dan pemerintahan, sedang satu lainnya dalam kekuasaan ekonomi. Minggu, 10 Juni 2012, kemarin, Liem Soei Liong yang juga dikenal sebagai Sudono Salim, meninggal dunia di Singapura. Menyusul Jenderal Soeharto,yang meninggal dunia lebih dulu pada 27 Januari 2008.
LIEM
SOEI LIONG, ‘TELUR EMAS’. “Jenderal Soeharto mampu membuat orang-orang
di lingkaran kekuasaannya tidak bersatu dan saling berlomba satu sama
lain”. “Dengan ketrampilan tinggi dalam memainkan seorang ‘pangeran’
melawan ‘pangeran’ lainnya dan percaya akan perlunya suatu ‘ketegangan
kreatif’ di antara para pembantunya, Soeharto menerapkan gaya divide et
impera, pecah belah dan kuasai”. (foto download; suara pengusaha).
Rabu, 18 April 2012
Sabtu, 14 Januari 2012
TAMBOKOTO - Biografi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden RI ke-6. Berbeda dengan presiden sebelumnya, beliau merupakan presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat dalam proses Pemilu Presiden putaran II 20 September 2004. Lulusan terbaik AKABRI (1973) yang akrab disapa SBY ini lahir di Pacitan, Jawa Timur 9 September 1949. Istrinya bernama Kristiani Herawati, merupakan putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo.
Pensiunan jenderal berbintang empat ini adalah anak tunggal dari pasangan R. Soekotjo dan Sitti Habibah. Darah prajurit menurun dari ayahnya yang pensiun sebagai Letnan Satu. Sementara ibunya, Sitti Habibah, putri salah seorang pendiri Ponpes Tremas. Beliau dikaruniai dua orang putra yakni Agus Harimurti Yudhoyono (mengikuti dan menyamai jejak dan prestasi SBY, lulus dari Akmil tahun 2000 dengan meraih penghargaan Bintang Adhi Makayasa) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara, Magelang yang kemudian menekuni ilmu ekonomi).
Pendidikan SR adalah pijakan masa depan paling menentukan dalam diri SBY. Ketika duduk di bangku kelas lima, beliau untuk pertamakali kenal dan akrab dengan nama Akademi Militer Nasional (AMN), Magelang, Jawa Tengah. Di kemudian hari AMN berubah nama menjadi Akabri. SBY masuk SMP Negeri Pacitan, terletak di selatan alun-alun. Ini adalah sekolah idola bagi anak-anak Kota Pacitan. Mewarisi sikap ayahnya yang berdisiplin keras, SBY berjuang untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya menjadi tentara dengan masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) setelah lulus SMA akhir tahun 1968. Namun, lantaran terlambat mendaftar, SBY tidak langsung masuk Akabri. Maka SBY pun sempat menjadi mahasiswa Teknik Mesin Institut 10 November Surabaya (ITS).
Namun kemudian, SBY justru memilih masuk Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) di Malang, Jawa Timur. Sewaktu belajar di PGSLP Malang itu, beliau mempersiapkan diri untuk masuk Akabri. Tahun 1970, akhirnya masuk Akabri di Magelang, Jawa Tengah, setelah lulus ujian penerimaan akhir di Bandung. SBY satu angkatan dengan Agus Wirahadikusumah, Ryamizard Ryacudu, dan Prabowo Subianto. Semasa pendidikan, SBY yang mendapat julukan Jerapah, sangat menonjol. Terbukti, belaiu meraih predikat lulusan terbaik Akabri 1973 dengan menerima penghargaan lencana Adhi Makasaya.
Pendidikan militernya dilanjutkan di Airborne and Ranger Course di Fort Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Georgia, AS (1982-1983) dengan meraih honor graduate, Jungle Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank Weapon Course di Belgia dan Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985), Seskoad di Bandung (1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991). Gelar MA diperoleh dari Webster University AS. Perjalanan karier militernya, dimulai dengan memangku jabatan sebagai Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (Komandan Peleton III di Kompi Senapan A, Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Kostrad) tahun 1974-1976, membawahi langsung sekitar 30 prajurit.
Batalyon Linud 330 merupakan salah satu dari tiga batalyon di Brigade Infantri Lintas Udara 17 Kujang I/Kostrad, yang memiliki nama harum dalam berbagai operasi militer. Ketiga batalyon itu ialah Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Batalyon Infantri Lintas Udara 328/Dirgahayu, dan Batalyon Infantri Lintas Udara 305/Tengkorak. Kefasihan berbahasa Inggris, membuatnya terpilih mengikuti pendidikan lintas udara (airborne) dan pendidikan pasukan komando (ranger) di Pusat Pendidikan Angkatan Darat Amerika Serikat, Ford Benning, Georgia, 1975. Kemudian sekembali ke tanah air, SBY memangku jabatan Komandan Peleton II Kompi A Batalyon Linud 305/Tengkorak (Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad) tahun 1976-1977. Beliau pun memimpin Pleton ini bertempur di Timor Timur.
Sepulang dari Timor Timur, SBY menjadi Komandan Peleton Mortir 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977). Setelah itu, beliau ditempatkan sebagai Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978), Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981), dan Paban Muda Sops SUAD (1981-1982). Ketika bertugas di Mabes TNI-AD, itu SBY kembali mendapat kesempatan sekolah ke Amerika Serikat. Dari tahun 1982 hingga 1983, beliau mengikuti Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983 sekaligus praktek kerja-On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983. Kemudian mengikuti Jungle Warfare School, Panama, 1983 dan Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984, serta Kursus Komando Batalyon, 1985. Pada saat bersamaan SBY menjabat Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
Lalu beliau dipercaya menjabat Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988) dan Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988), sebelum mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando TNI-AD (Seskoad) di Bandung dan keluar sebagai lulusan terbaik Seskoad 1989. SBY pun sempat menjadi Dosen Seskoad (1989-1992), dan ditempatkan di Dinas Penerangan TNI-AD (Dispenad) dengan tugas antara lain membuat naskah pidato KSAD Jenderal Edi Sudradjat. Lalu ketika Edi Sudradjat menjabat Panglima ABRI, beliau ditarik ke Mabes ABRI untuk menjadi Koordinator Staf Pribadi (Korspri) Pangab Jenderal Edi Sudradjat (1993).
Lalu, beliau kembali bertugas di satuan tempur, diangkat menjadi Komandan Brigade Infantri Lintas Udara (Dan Brigif Linud) 17 Kujang I/Kostrad (1993-1994) bersama dengan Letkol Riyamizard Ryacudu. Kemudian menjabat Asops Kodam Jaya (1994-1995) dan Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995). Tak lama kemudian, SBY dipercaya bertugas ke Bosnia Herzegovina untuk menjadi perwira PBB (1995). Beliau menjabat sebagai Kepala Pengamat Militer PBB (Chief Military Observer United Nation Protection Force) yang bertugas mengawasi genjatan senjata di bekas negara Yugoslavia berdasarkan kesepakatan Dayton, AS antara Serbia, Kroasia dan Bosnia Herzegovina. Setelah kembali dari Bosnia, beliau diangkat menjadi Kepala Staf Kodam Jaya (1996). Kemudian menjabat Pangdam II/Sriwijaya (1996-1997) sekaligus Ketua Bakorstanasda dan Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998) sebelum menjabat Kepala Staf Teritorial (Kaster) ABRI (1998-1999).
Sementara, langkah karir politiknya dimulai tanggal 27 Januari 2000, saat memutuskan untuk pensiun lebih dini dari militer ketika dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid. Tak lama kemudian, SBY pun terpaksa meninggalkan posisinya sebagai Mentamben karena Gus Dur memintanya menjabat Menkopolsoskam. Pada tanggal 10 Agustus 2001, Presiden Megawati mempercayai dan melantiknya menjadi Menko Polkam Kabinet Gotong-Royong. Tetapi pada 11 Maret 2004, beliau memilih mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam. Langkah pengunduran diri ini membuatnya lebih leluasa menjalankan hak politik yang akan mengantarkannya ke kursi puncak kepemimpinan nasional. Dan akhirnya, pada pemilu Presiden langsung putaran kedua 20 September 2004, SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla meraih kepercayaan mayoritas rakyat Indonesia dengan perolehan suara di attas 60 persen. Dan pada tanggal 20 Oktober 2004 beliau dilantik menjadi Presiden RI ke-6.
Berikut ini data lengkap tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Nama : Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono
Lahir : Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949
Agama : Islam
Jabatan : Presiden Republik Indonesia ke-6
Istri : Kristiani Herawati, putri ketiga (Alm) Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo
Anak : Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono
Ayah : Letnan Satu (Peltu) R. Soekotji
Ibu : Sitti Habibah
Pendidikan :
* Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
* American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
* Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
* Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
* On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
* Jungle Warfare School, Panama, 1983
* Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984
* Kursus Komando Batalyon, 1985
* Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989
* Command and General Staff College, Fort Leavenwort, Kansas, AS
* Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS
Karier :
* Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (1974-1976)
* Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad (1976-1977)
* Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
* Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978)
* Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981)
* Paban Muda Sops SUAD (1981-1982)
* Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
* Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988)
* Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988)
* Dosen Seskoad (1989-1992)
* Korspri Pangab (1993)
* Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994)
* Asops Kodam Jaya (1994-1995)
* Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995)
* Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (sejak awal November 1995)
* Kasdam Jaya (1996-hanya lima bulan)
* Pangdam II/Sriwijaya (1996-) sekaligus Ketua Bakorstanasda
* Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998)
* Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI (1998-1999)
* Mentamben (sejak 26 Oktober 1999)
* Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid)
* Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati Sukarnopotri) mengundurkan diri 11 Maret 2004
Penugasan : Operasi Timor Timur 1979-1980 dan 1986-1988
Penghargaan :
* Adi Makayasa (lulusan terbaik Akabri 1973)
* Tri Sakti Wiratama (Prestasi Tertinggi Gabungan Mental Fisik, dan Intelek), 1973
* Satya Lencana Seroja, 1976
* Honorour Graduated IOAC, USA, 1983
* Satya Lencana Dwija Sista, 1985
* Lulusan terbaik Seskoad Susreg XXVI, 1989
* Dosen Terbaik Seskoad, 1989
* Satya Lencana Santi Dharma, 1996
* Satya Lencana United Nations Peacekeeping Force (UNPF), 1996
* Satya Lencana United Nations Transitional Authority in Eastern Slavonia, Baranja, and Western Sirmium (UNTAES), 1996
* Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, 1998
* Bintang Yudha Dharma Nararya, 1998
* Wing Penerbang TNI-AU, 1998
* Wing Kapal Selam TNI-AL, 1998
* Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, 1999
* Bintang Yudha Dharma Pratama, 1999
* Bintang Dharma, 1999
* Bintang Maha Putera Utama, 1999
* Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik, 2003
* Bintang Asia (Star of Asia) dari BusinessWeek, 2005
* Bintang Kehormatan Darjah Kerabat Laila Utama dari Sultan Brunei
* Doktor Honoris Causa dari Universitas Keio, 2006
Alamat : Jl. Alternatif Cibubur Puri Cikeas Indah No. 2 Desa Nagrag Kec. Gunung Putri Bogor 16967
Referensi
- http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/biography/idx.asp?presiden=sby
- http://www.ghabo.com/gpedia/index.php/Susilo_Bambang_Yudhoyono
Senin, 09 Januari 2012
Tambokoto - Romney Kandidat Terkuat Republik
Menuju Pemilu AS 2012
Senin, 09 Januari 2012
RMOL. Kandidat calon Presiden Amerika Serikat (AS) 2012 Mitt Romney masih menjadi kandidat terkuat meski jadi sasaran empuk dalam debat antar capres dari kubu Republik, sebelum primary (pemilihan pendahuluan) di Negara Bagian New Hampshire, 10 Januari. Dia menikmati hasil jajak pendapat di atas 40 persen, dan kelihatan makin meningkat.
Calon konservatif, Rick Santorum dan Newt Gingrich bertubi-tubi menyerang Romney di debat yang dilaksanakan ABC News, Sabtu (7/1) atau Minggu WIB. Dalam dua babak debat, Romney dengan tenang menanggapi penantangnya. Romney fokus pada langkah yang diambil Presiden dari Partai Demokrat Barack Obama dalam kebijakan ekonomi dan politik luar negeri. Dia mengaku tengah berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang justru dapat merugikan dirinya.
“Saya tidak mau menanggapi orang-orang di panggung ini dengan kritis,” balas Romney terlihat tenang. “Presiden harus diganti,” tekannya tanpa berpanjang-panjang membela diri.
Santorum, bekas senator dari Pennsylvania yang berhasil menyamakan kemenangan dengan Romney dengan selisih delapan suara di kaukus Iowa, mengatakan, bukan karena Romney punya pengalaman di dunia bisnis berarti dia pantas menjabat sebagai presiden. “Kita butuh pemimpin yang mampu membawa visi positif ke negeri ini,” ujar Santorum.
Gingrich, yang gagal di Iowa, mempertanyakan kepemimpinan Romney di Bain Capital. Romney sering berkoar-koar mengenai pengalamannya di Bain dalam mengatasi krisis ekonomi. Bain, berpengalaman dalam merestrukturisasi perusahaan bermasalah yang berujung pada penutupan bisnis.
Gingrich mencecar, “Gubernur (Romney) bisa saja membela diri. Tapi saya rasa sah-sah saja mempertanyakan apakah rakyat akan baik-baik saja dengan model seperti itu?”
Romney diprediksi akan lebih lemah dalam primary di South Carolina, 21 Januari, yang mayoritas pemilihnya konservatif. Kesempatan ini justru jatuh kepada calon konservatif seperti Santorum, Gingrich, Rick Perry atau anggota DPR dari Texas Ron Paul.
Namun, prediksi awal itu sepertinya meleset jika melihat hasil jajak pendapat CNN dan Time. Romney mendapat 37 persen dukungan di South Carolina, meningkat dari perolehan Desember yang hanya mencapai 20 persen. Saingannya, Rick Santorum, dalam waktu sebulan dari empat persen mendapat 19 persen sokongan, meninggalkan Newt Gingrich yang turun pendukungnya dari 43 persen menjadi 18 persen. Jajak pendapat ini penting bagi Romney. Sebab, dia bukan hanya populer di Iowa dan New Hampshire, tapi juga di bagian Amerika yang masih religius.
Gingrich Dapat Dana
Gingrich mendapat suntikan dana dari taipan Las Vegas sebesar 5 juta Dolar AS atau sekitar Rp 45 milar. Duit yang disebut-sebut berasal dari kasino Sheldon Andelson, diserahkan kepada kelompok pendukung pro-Gingrich Super PAC. Andelson adalah pendukung fanatik kandidat Republik. [Harian Rakyat Merdeka]
Langganan:
Postingan (Atom)
