Jerman telah dipersalahkan karena perang. Sebagai hukuman, mereka harus menyerah tentara mereka, daerah dan memberikan miliaran reparasi lakukan. Negara itu bangkrut. Rakyat Jerman kelaparan, tapi mereka juga marah. Mengapa mereka dihukum begitu keras? Adolf Hitler setuju dengan mereka. Dia berpikir bahwa Jerman adalah negara yang bisa dibanggakan. Hitler menginginkan perjanjian Versailles, yang hukuman direkam untuk Jerman, membatalkan.
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Minggu, 21 Juli 2013
Jumat, 22 Maret 2013
Senin, 11 Maret 2013
Kamis, 05 Juli 2012
Para Prajurit Janda
Sumber: Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid I. Ilustrasi: Micha Rainer Pali
OLEH: HENDARU TRI HANGGORO
KESULTANAN Aceh
belum lama berdiri ketika Portugis menaklukkan Malaka pada 1511.
Kesultanan ini secara bertahap menjadi kuat di semenanjung Sumatra pada
paruh pertama abad ke-16. Kala itu, lada Sumatra laku keras di pasaran
Tiongkok dan Eropa. Hubungan dengan pedagang dari pesisir laut merah pun
segera terjalin. Ini membawa keuntungan bagi Kesultanan Aceh.
Portugis melihat itu sebagai ancaman,
sementara sultan-sultan Aceh menilai Portugis sebagai lawan. Perang pun
tak terelakkan. Aceh menyerang Malaka pada 1537, 1547, 1567, 1574, dan
1629. Dalam peperangan itu, Aceh menyertakan armada perempuan. Orang
Portugis agak canggung dibuatnya. Tapi, tak ada pilihan: mereka harus
berperang melawan para perempuan. Inilah tilas mula keperkasaan
perempuan Aceh.
Kesertaan perempuan Aceh ditemukan dalam
perang tahun 1567 walau belum berhimpun dalam kesatuan khusus. Jennifer
Dudley, mahasiswi doktoral Universitas Murdoch, menyebut
perempuan-perempuan itu bergabung ke dalam pasukan Sultan Alauddin
Riayat Syah al-Kahar. “Mereka menemani suaminya berperang, sementara
sisanya adalah janda atau tunangan dari prajurit yang gugur dalam perang
sebelumnya,” tulis Dudley dalam “Of Warrior Women, Emancipiest
Princesses, ‘Hidden Queens’, and Managerial Mothers.”
Rabu, 20 Juni 2012
Liem Soei Liong: ‘Penjaga Telur Emas’ Bagi Kekuasaan Jenderal Soeharto (1)
In Politik, Ekonomi, Historia on June 11, 2012 at 4:46 PM
MESKI Liem Soei Liong lahir hampir 5 tahun lebih awal dan meninggal lebih lambat 4 tahun dari Jenderal Soeharto, keduanya seakan ditakdirkan hampir seumur hidup –sejak mula pertama bertemu di pertengahan tahun 50-an– bersama dalam kekuasaan negara di Indonesia. Satu dalam kancah kekuasaan politik dan pemerintahan, sedang satu lainnya dalam kekuasaan ekonomi. Minggu, 10 Juni 2012, kemarin, Liem Soei Liong yang juga dikenal sebagai Sudono Salim, meninggal dunia di Singapura. Menyusul Jenderal Soeharto,yang meninggal dunia lebih dulu pada 27 Januari 2008.

Sejak pertengahan tahun 1940-an, Liem Soei Liong –yang baru datang ke
Indonesia di tahun 1937, saat berusia 21 tahun– selain berdagang
kelontong dan menjual secara kredit, membantu memasok kebutuhan tentara
nasional Indonesia. Untuk tentara, Liem Soei Liong memasok pakaian,
obat-obatan, sabun, makanan sampai peralatan militer. Ini kemudian
berlanjut dengan kegiatan membekali Divisi Diponegoro di tahun 1950-an
yang berkedudukan di Semarang. “Seorang Letnan Kolonel yang bernama
Soeharto mempunyai tugas mengurus suplai divisi itu”, tulis Ahmad D.
Habir dalam buku Donald K. Emerson, Indonesia Beyond Soeharto (1999). “Dalam urusan awal ini, antara orang Tionghoa imigran dan perwira pribumi, terletaklah benih kerjasama seumur hidup”.
MESKI Liem Soei Liong lahir hampir 5 tahun lebih awal dan meninggal lebih lambat 4 tahun dari Jenderal Soeharto, keduanya seakan ditakdirkan hampir seumur hidup –sejak mula pertama bertemu di pertengahan tahun 50-an– bersama dalam kekuasaan negara di Indonesia. Satu dalam kancah kekuasaan politik dan pemerintahan, sedang satu lainnya dalam kekuasaan ekonomi. Minggu, 10 Juni 2012, kemarin, Liem Soei Liong yang juga dikenal sebagai Sudono Salim, meninggal dunia di Singapura. Menyusul Jenderal Soeharto,yang meninggal dunia lebih dulu pada 27 Januari 2008.
LIEM
SOEI LIONG, ‘TELUR EMAS’. “Jenderal Soeharto mampu membuat orang-orang
di lingkaran kekuasaannya tidak bersatu dan saling berlomba satu sama
lain”. “Dengan ketrampilan tinggi dalam memainkan seorang ‘pangeran’
melawan ‘pangeran’ lainnya dan percaya akan perlunya suatu ‘ketegangan
kreatif’ di antara para pembantunya, Soeharto menerapkan gaya divide et
impera, pecah belah dan kuasai”. (foto download; suara pengusaha).
Minggu, 17 Juni 2012
The War & Peace Show
Perang Dunia Kedua
Kekuatan Poros melawan Sekutu
Pada tahun 1919 mengakhiri Perang Dunia I, yang kemudian disebut Perang Besar. Semua orang setuju bahwa seperti perang mengerikan tidak pernah diizinkan untuk terjadi. Namun 20 tahun kemudian itu yang salah lagi. Perang Dunia II adalah perang terburuk dalam sejarah.
Jerman telah dipersalahkan karena perang. Sebagai hukuman, mereka harus menyerah tentara mereka, daerah dan memberikan miliaran reparasi lakukan. Negara itu bangkrut. Rakyat Jerman kelaparan, tapi mereka juga marah. Mengapa mereka dihukum begitu keras? Adolf Hitler setuju dengan mereka. Dia berpikir bahwa Jerman adalah negara yang bisa dibanggakan. Hitler menginginkan perjanjian Versailles, yang hukuman direkam untuk Jerman, membatalkan.
Jerman telah dipersalahkan karena perang. Sebagai hukuman, mereka harus menyerah tentara mereka, daerah dan memberikan miliaran reparasi lakukan. Negara itu bangkrut. Rakyat Jerman kelaparan, tapi mereka juga marah. Mengapa mereka dihukum begitu keras? Adolf Hitler setuju dengan mereka. Dia berpikir bahwa Jerman adalah negara yang bisa dibanggakan. Hitler menginginkan perjanjian Versailles, yang hukuman direkam untuk Jerman, membatalkan.
Batavia
Perdagangan besar kota selama VOC (1602-1799)
Pada masa VOC pada abad 17 dan 18 adalah semua tentang perdagangan. Jakarta, ibukota Indonesia, adalah salah satu kota pelabuhan terbesar di dunia. Kota ini kemudian disebut Batavia. Pengunjung sangat terkesan dengan tempat ini dan disebut kota "ratu dari Timur '.
Belanda pada abad ke 17 adalah kekuatan dunia. Hal ini terutama melalui pembentukan East India Company (VOC). Terutama kota-kota berkembang karena perkembangan ekonomi yang menguntungkan.
Belanda pada abad ke 17 adalah kekuatan dunia. Hal ini terutama melalui pembentukan East India Company (VOC). Terutama kota-kota berkembang karena perkembangan ekonomi yang menguntungkan.
Naik VOC
Perusahaan India Timur (didirikan pada 1602) berada di perusahaan perdagangan terbesar abad 17 dan 18 di dunia. Perusahaan menerima dari Amerika Jenderal kekuasaan yang luas: tidak hanya monopoli semua perdagangan Belanda dan pengiriman ke Asia, tetapi juga hak untuk bertindak atas nama pemerintah. Dan Aksi, apakah Belanda di Indonesia. Penduduk setempat menjadi sasaran wajib dan hanya dengan produk dagang Belanda seperti bunga pala, merica dan pala untuk menyampaikan. Ketika masyarakat Banda mencoba untuk menghindari kewajiban itu, bertindak kasar pada VOC.
Perusahaan India Timur (didirikan pada 1602) berada di perusahaan perdagangan terbesar abad 17 dan 18 di dunia. Perusahaan menerima dari Amerika Jenderal kekuasaan yang luas: tidak hanya monopoli semua perdagangan Belanda dan pengiriman ke Asia, tetapi juga hak untuk bertindak atas nama pemerintah. Dan Aksi, apakah Belanda di Indonesia. Penduduk setempat menjadi sasaran wajib dan hanya dengan produk dagang Belanda seperti bunga pala, merica dan pala untuk menyampaikan. Ketika masyarakat Banda mencoba untuk menghindari kewajiban itu, bertindak kasar pada VOC.
Diplomasi
VOC juga mencoba melalui diplomasi untuk mencapai tujuannya. Mereka melakukan ini misalnya dengan menyimpulkan perjanjian dengan penduduk setempat, memberikan perlindungan kepada para pembesar lokal dan dengan membagi-bagikan hadiah.
Jadi merebut monopoli VOC pada perdagangan rempah-rempah: lada dari Sumatera, kayu manis dari Sri Lanka, cengkeh, pala dan fuli dari Maluku.
Els Jacobs mengatakan sejarawan mengamati hal berikut:
"Di Sumatera, untuk pangeran contoh diwajibkan allle lada kerajaan mereka dengan VOC untuk memasok dengan harga lebih rendah dengan imbalan perlindungan terhadap musuh-musuh domestik seperti pelindung yang kuat dari sang pangeran juga menarik, sehingga ia menyampaikan lada murah.. Tapi dia Memang, semua paprika kaya akan data, maka ia telah memiliki penghasilan terlalu kecil Jadi monopoli dengan murah hati dihindari.. "
VOC juga mencoba melalui diplomasi untuk mencapai tujuannya. Mereka melakukan ini misalnya dengan menyimpulkan perjanjian dengan penduduk setempat, memberikan perlindungan kepada para pembesar lokal dan dengan membagi-bagikan hadiah.
Jadi merebut monopoli VOC pada perdagangan rempah-rempah: lada dari Sumatera, kayu manis dari Sri Lanka, cengkeh, pala dan fuli dari Maluku.
Els Jacobs mengatakan sejarawan mengamati hal berikut:
"Di Sumatera, untuk pangeran contoh diwajibkan allle lada kerajaan mereka dengan VOC untuk memasok dengan harga lebih rendah dengan imbalan perlindungan terhadap musuh-musuh domestik seperti pelindung yang kuat dari sang pangeran juga menarik, sehingga ia menyampaikan lada murah.. Tapi dia Memang, semua paprika kaya akan data, maka ia telah memiliki penghasilan terlalu kecil Jadi monopoli dengan murah hati dihindari.. "
Indonesia
Markas besar VOC di Batavia, Indonesia, di pulau Jawa. Kota ini didirikan pada 1619 oleh Jan Pieterszoon Coen. Dalam Kastil Batavia kursi dari Pemerintah Agung, pemerintah pusat VOC di Indonesia. VOC tidak pernah berniat ke Indonesia, sebagai koloni pendirian. Banyak pria Belanda mengadakan hubungan dengan wanita Indonesia, sehingga di pos perdagangan adalah sebuah masyarakat yang beragam.
Markas besar VOC di Batavia, Indonesia, di pulau Jawa. Kota ini didirikan pada 1619 oleh Jan Pieterszoon Coen. Dalam Kastil Batavia kursi dari Pemerintah Agung, pemerintah pusat VOC di Indonesia. VOC tidak pernah berniat ke Indonesia, sebagai koloni pendirian. Banyak pria Belanda mengadakan hubungan dengan wanita Indonesia, sehingga di pos perdagangan adalah sebuah masyarakat yang beragam.
Jan Pieterszoon Coen
Jan Pieterszoon Coen dipekerjakan oleh Perusahaan Timur Amerika India. Dia membuat sebuah kerajaan perdagangan VOC. Dia membuat karir yang cepat dan pada 1613 menerima pos tertinggi kedua di India: Coen menjadi Direktur Jenderal.
Dari surat-surat oleh Jan Pieterszoon Coen menulis dua tahun kemudian, dia juga seorang advokat sebenarnya dari otoritas dan kekuasaan.
Di India, menurut saya kita tidak dapat bekerja tanpa kewenangan dan kekuasaan. Kita harus menaklukkan dengan senjata dan paksaan, atau kita akan "pada Fluyten Duym ..."
Lain waktu ia menulis sebuah visi yang berbeda tentang kekerasan ini kepada direksi kemudian di Batavia mulai pemberontakan terhadap Perusahaan:
Jangan putus asa, Meredakan musuh Anda, tidak ada di dunia yang dapat menyakiti kita atau berhenti, karena Allah beserta kita.
Jan Pieterszoon Coen dipekerjakan oleh Perusahaan Timur Amerika India. Dia membuat sebuah kerajaan perdagangan VOC. Dia membuat karir yang cepat dan pada 1613 menerima pos tertinggi kedua di India: Coen menjadi Direktur Jenderal.
Dari surat-surat oleh Jan Pieterszoon Coen menulis dua tahun kemudian, dia juga seorang advokat sebenarnya dari otoritas dan kekuasaan.
Di India, menurut saya kita tidak dapat bekerja tanpa kewenangan dan kekuasaan. Kita harus menaklukkan dengan senjata dan paksaan, atau kita akan "pada Fluyten Duym ..."
Lain waktu ia menulis sebuah visi yang berbeda tentang kekerasan ini kepada direksi kemudian di Batavia mulai pemberontakan terhadap Perusahaan:
Jangan putus asa, Meredakan musuh Anda, tidak ada di dunia yang dapat menyakiti kita atau berhenti, karena Allah beserta kita.
Kebangkrutan
Dua ratus tahun berlalu perdagangan VOC berhasil antara Belanda dan Indonesia untuk mengontrol. Tapi akhir 1799 sudah berakhir. VOC bangkrut dan pemerintah Belanda mengambil utang besar.
Masih di sekitar kita untuk menemukan jejak masa lalu yang mulia ini, waktu VOC.
Dua ratus tahun berlalu perdagangan VOC berhasil antara Belanda dan Indonesia untuk mengontrol. Tapi akhir 1799 sudah berakhir. VOC bangkrut dan pemerintah Belanda mengambil utang besar.
Masih di sekitar kita untuk menemukan jejak masa lalu yang mulia ini, waktu VOC.
Data dalam waktu VOC:
| 1578 - 1629 | Jan Pieterszoon Coen |
| April 1595 | Pertama Ekspedisi Belanda ke Asia |
| 1602 | Pendirian VOC |
| 1622 | Pidana Ekspedisi ke Kepulauan Banda |
| 1619 - 1623 | Pertama istilah sebagai Gubernur Jenderal Coen |
| 1627 - 1629 | Kedua istilah sebagai Gubernur Jenderal Coen |
| 1684 | Belanda subyek Banten (di Jawa) |
| 1799 | VOC dihapus |
Kamis, 14 Juni 2012
Raden Wijaya, pendiri Majapahit
rADEN WIJAYA
oleh Renny Masmada
Raden Wijaya adalah pendiri Kerajaan Majapahit. Menurut Kidung Harsawijaya, penobatannya sebagai raja Majapahit berlangsung pada candrasangkala purneng kartikamasa panca dasi sukleng catur (tanggal 15 bulan Kartika, Oktober-Nopember tahun 1293).
Namun menurut Nagarakretagama XLV/1 berlangsung pada candrasangkala masa-rupa-surya, 1216 (=1294M), sesuai dengan Serat Pararaton yang mencatat pada tahun saka rasa-rupa-dwi-sitangsu, 1216 (=1294M) sesuai dengan piagam Kudadu yang juga bertarikh 1294, tercatat namanya: Nararya Sanggramawijaya.
Raden Wijaya ialah putra Dyah Lembu
Tal (Mahisa Campaka), cucu Narasingamurti. Menantu Sri Kertanegara
(pamannya) karena mengawini 4 orang puteri Kertanagara, yaitu:
- Tribhuwana, puteri sulung, tidak tercela, sangat ulung dalam permainan kata (mahalalita).
- Mahadewi, sangat rupawan tidak bertara, menjadi landasan percintaan Sri Baginda.
- Jayendradewi biasa disebut Prajnyaparamita, cantik manis menawan hati, sangat setia dan mempunyai sifat-sifat luhur.
- Gayatri, puteri bungsu, bergelar Rajapatni, yang paling dikasihi oleh raden Wijaya., dan membuahkan dua orang puteri, yang pertama Tribhuanatunggadewi dan yang kedua Dyah Wiyat Sri Rajadewi.
Selain dengan keempat puteri
Kertanagara, Raden Wijaya juga mengawini Dara Petak atau yang bergelar
Indreswari, puteri Tribhuanaraja dari Suwarnabhumi, Jambi. Dari
perkawinannya ini lahirlah Jayanagara.
Raden Wijaya diarcakan sebagai Harihara
di candi Simping atau Sumberjati. Menurut Nagarakretagama pupuh XLVII/3,
raja Kertarajasa Jayawardhana mangkat pada tahun Saka Matryaruna, 1231
(=1309 M), dicandikan di Simping, jenazahnya dimakamkan di Antahpura
(istana). Bahkan di Nagarakretagama pupuh LXXVII/3 toponim Trawulan
disebut sebagai tempat makam rajadiraja. Slamet Mulyana berkesimpulan
bahwa Kertarajasa Jayawardhana dimakamkan di Trawulan, istana Majapahit pada tahun 1309. Kertarajasa memeluk agama Siwa, namun konon Dewa Wisnu menitis ke dalam dirinya.
Rabu, 06 Juni 2012
Kegunaan Sejarah
Mempelajari sejarah tentu banyak gunanya. Sebab, sejarah berbicara tentang kehidupan manusia. Kegunaan mempelajari sejarah yaitu sebagai berikut.
1.Bersifat edukatif
Edukatif berarti nilai-nilai yang mengan- dung unsur pendidikan. Orang sering berkata “Belajar dari sejarah”, “Belajarlah dari masa lalu”. Dalam ungkapan tersebut terkandung arti bahwa sejarah memiliki kegunaan yang dapat mendidik kita. Apa yang terjadi pada masa lalu harus menjadi pelajaran buat kita, orang sering menyatakan “ambillah hikmahnya”. Hikmah dapat diambil dari apa yang pernah terjadi dalam diri kita.
Sejarah yang mengandung nilai-nilai kebenaran misalnya, dapat kita lihat dalam perjuangan para nabi. Kita sudah sering membaca dan mendengar bagaimana tantangan yang dihadapi oleh para nabi dalam melakukan misi. Misi yang diemban oleh para nabi adalah menegakkan kebenaran yang sudah ditugaskan oleh Tuhan. Kebenaran yang diperjuangkan oleh para nabi adalah mengajak manusia untuk melaksanakan ajaran Tuhan, agar hidup manusia itu menjadi selamat baik di dunia maupun di akhirat. Akan tetapi perjuangan yang dilakukan oleh para nabi itu tidak sedikit yang mendapat tantangan dari para kaumnya. Para nabi tersebut dicerca, dihina, bahkan sampai akan dibunuh. Para nabi tak gentar menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Mereka bersikukuh memperjuangkan misinya. Perjuangan yang dilaksanakan oleh para nabi tersebut dalam perkembangan kemudian ada hasilnya. Misalnya agama sampai sekarang mengalami perkembangan.
2.Bersifat inspiratif
Sejarah banyak menghasilkan berbagai karya, baik karya seni maupun karya sastra. Karya-karya tersebut banyak memberikan inspirasi bagi seniman untuk berkreasi dalam menciptakan karya-karyanya. Bahkan karya-karya seni pada masa lalu tidak sedikit yang memiliki nilai seni yang sangat tinggi, sulit untuk dicapainya pada zaman sekarang. Karya seni tersebut dapat menjadi suatu peradaban. Di Indonesia banyak sekali peninggalan-peninggalan yang memiliki karya seni yang bernilai tinggi. Misalnya candi-candi yang dibangun oleh para raja.
Karya seni pada masa lalu di samping memiliki nilai seni yang tinggi juga menunjukkan kemampuan teknologi yang sudah maju pada zamannya. Misalnya, Candi Borobudur merupakan sebuah bangunan monumental yang memiliki nilai seni sangat tinggi. Kamu dapat membayangkan bagaimana masyarakat saat itu menumpukkan batu-batu dengan tidak dilem (pakai semen) seperti sekarang ini dapat berdiri dengan megah hingga ratusan tahun. Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi pembangunan mereka saat itu begitu tinggi. Relief-relief yang diukir begitu rapinya pada tumpukan batu-batu. Kemampuan teknologi bangunan dalam Candi Borobudur dapat memberikan inspirasi bagi para ahli bangunan bagaimana membuat bangunan yang lebih kokoh. Bahkan relief-relief yang ada di Candi Borobudur pun dapat memberikan inspirasi bagi pengembangan seni rupa.
3.Bersifat instruktif
Instruktif secara harfiah dapat diartikan pengajaran. Pengajaran dalam konteks di sini memberikan arti keterampilan yang diperoleh dari pengajaran sejarah. Keterampilan tersebut, baik berupa keterampilan berpikir maupun keterampilan yang bersifat fisik. Keterampilan berpikir adalah keterampilan yang bersifat kognitif. Hal ini dapat diperoleh melalui pengkajian terhadap materi sejarah. Adapun keterampilan yang bersifat fisik lebih banyak diperlihatkan dalam bentuk unjuk kerja.
Sejarah sebagai ilmu pada dasarnya memberikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat teoretis. Sifat teoretis dapat berupa pemahaman terhadap konsep- konsep atau generalisasi-genaralisasi yang dikaji dari peristiwa sejarah yang dipelajarinya. Konsep-konsep yang ada dalam ilmu sejarah misalnya, berpikir sebab akibat atau kausalitas, kronologis, perkembangan, pertumbuhan, dan perubahan. Dalam melihat atau mengamati kehidupan sehari-hari, dapat menggunakan konsep-konsep tersebut.
4.Bersifat rekreatif
Karya-karya sejarah yang berupa peninggalan fisik banyak memberikan kesan kepada masyarakat saat ini. Kesan tersebut baik bersifat fisik maupun non fisik. Kesan secara fisik misalnya orang sangat kagum melihat nilai seni dari peninggalan tersebut. Akibatnya, orang tersebut tertarik untuk melakukan wisata ke tempat peninggalan sejarah. Adapun kesan nonfisik bisa dilihat dari nilai-nilai yang terkandung dalam bangunan fisik tersebut, misalnya masjid kuno.
Banyak orang yang melakukan wisata dengan mengunjungi masjid- masjid kuno dengan tujuan ingin meningkatkan penghayatan spiritual dia terhadap nilai-nilai keagamaan. Apalagi jika di Masjid Kuno tersebut terdapat makam- makam orang yang berperan dalam sejarah. Para wisatawan biasanya akan berziarah ke makam tersebut. Bagi mereka yang menghayati kunjungannya ke tempat-tempat tersebut, seolah-olah memberikan kesan bahwa mereka telah melakukan lawatan masa lalu.
Peninggalan-peninggalan sejarah saat ini banyak memberikan peran yang sangat penting bagi pengembangan pariwisata. Bahkan beberapa pemerintah daerah ada yang mengembangkan pariwisatanya dengan memanfaatkan peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di daerahnya. Situs-situs sejarah secara ekonomis dapat meningkatkan pendapatan daerah.
Bangunan-bangunan kuno lainnya misalnya beberapa bangunan keraton kerajaan. Di tempat ini kita dapat berekreasi menikmati keindahan keraton- keraton masa lalu yang dibangun dengan bentuk bangunan yang merupakan perpaduan antara bentuk asli Indonesia dengan unsur-unsur dari luar. Beberapa unsur luar yang berpengaruh terhadap bangunan luar misal pengaruh dari Eropa, Cina, Arab, dan negara-negara lainnya. Dari jenis perpaduan bangunan ini kita dapat belajar juga bahwa pada masa itu bangsa Indonesia sudah menjalin hubungan baik dengan bangsa-bangsa di luar Indonesia.
Salah satu tempat rekreasi sejarah adalah museum. Di tempat ini banyak disimpan atau dikoleksi benda-benda peninggalan sejarah. Benda-benda ini sangat penting untuk memberikan pengetahuan tentang kesejarahan. Kunjungan ke museum memiliki dua arti, yaitu pertama berekreasi dan kedua belajar ilmu pengetahuan. Setiap museum yang dibangun memiliki kekhasan tersendiri, ada museum yang dibangun karena adanya peristiwa penting misalnya Museum Konferensi Asia Afrika yang ada di Gedung Merdeka Kota Bandung Jawa Barat.
5.Pendidikan politik
Nilai-nilai politik sangat kentara dalam penulisan sejarah, terutama sejarah yang ditulis oleh pemerintah atau penulisan sejarah yang merujuk kepada kepentingan pemerintah. Penulisan sejarah seperti ini sangat nampak dalam buku-buku teks pelajaran sejarah yang ada di sekolah. Mengapa demikian? Sebab, pelajaran sejarah yang diberikan di sekolah harus merujuk kepada kurikulum yang berlaku. Adapun kurikulum pada dasarnya merupakan produk kebijakan politik pemerintah dalam pendidikan. Dengan demikian, sejarah yang diajarkan di sekolah memiliki misi dalam rangka pendidikan politik.
Misi penting dalam pengajaran sejarah di sekolah di antaranya adalah menciptakan warga negara yang baik. Salah satu ciri penting dari warga negara yang baik adalah warga negara yang selalu tunduk dan taat terhadap peraturan negara. Ketundukan dan kepatuhan ini dapat dibangun dengan cara menanamkan semangat kebangsaan dan rasa memiliki terhadap bangsanya. Pengajaran sejarah memiliki peran yang sangat penting dalam membangun nasionalisme. Nasionalisme yang diterapkan kepada siswa pada dasarnya merupakan bentuk pendidikan politik dari negara kepada warganya. Setiap bangsa memiliki kepentingan untuk menulis sejarahnya.
6.Pendidikan masa depan
Dapatkah sejarah mempelajari masa depan? Sudah barang tentu dapat. Mengapa sejarah dapat mempelajari masa depan? Sebab, sejarah adalah suatu studi tentang kehidupan manusia dalam konteks waktu. Waktu dalam pengertian sejarah dapat berupa sebuah garis yang lurus ke depan. Garis tersebut dapat menunjukkan adanya kesinambungan. Kesinambungan waktu yang dimaksud adalah kesinambungan antara masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Masa lalu sangat menentukan masa sekarang, dan masa sekarang sangat menentukan masa yang akan datang.
Kesinambungan waktu dalam sejarah dapat kita contohkan terhadap apa yang terjadi pada diri kita. Misalnya sekarang kita duduk di bangku SMA. Keberadaan kita sekarang di SMA ini sebenarnya tidak lepas dari apa yang kita lakukan pada masa lalu, yaitu ketika kita di SMP atau di SD. Apabila kita ketika di SMP-nya belajar dengan rajin dan serius maka ketika kita duduk di SMA tidak menutup kemungkinan prestasi kita menjadi lebih baik lagi. Begitu pula halnya dalam melihat masa depan kita.
Matur Dihantam Howitzer & Dibumi-hanguskan pada Agresi II Belanda
Oleh :
Anwar Harry St. Pamenan *)
Peristiwa 18 Desember 1948 sangat mengejutkan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat yang berada dalam kota Bukittinggi sebagai pusat pemerintahan di Sumatera. Pada malam hari pada tanggal 18 Desember 1948 hari terang bulan, udara sejuk dipelukan Merapi dan Singgalang ini dikejutkan oleh deru pesawat udara yang tiada henti-hentinya berputar-putar di udara Bukittinggi, putaran mana juga sampai ke Matur. Pada saat itu desas-desus bahwa bapak Presiden dan Inyiak H. Agus Salim akan singgah di Bukittinggi dalam perjalanannya ke India, oleh sebab itu timbul dugaan bahwa pesawat yang selalu berputar-putar di udara Bukittinggi itu tidak melihat kode lapangan atau lapangan sama sekali tidak terlihat dari udara. Untuk itu seluruh mobil-mobil yang ada dalam kota sama-sama pergi ke lapangan untuk menerangi lapangan yang kelak di darati oleh pesawat kepala negara.
Namun setelah berjam-jam dan telah diberi kode untuk segera mendarat namun pesawat tetap juga berputar-putar di udara. Rakyat jadi gelisah, dan para pemimpin jadi timbul tanda tanya, apa sebenarnya, kenapa pesawat yang telah diberi kode dengan lampu itu belum uga mendarat ?. Sementara itu arus penduduk yang berbondong-bondong ke lapangan udara Gadut tidak bisa ditahan. Mereka ingin menyambut kedatangan presiden mereka. Semalam suntuk penduduk Bukittinggi tidak tidur. Mereka merasa pasti bahwa yang ada dalam pesawat yang berputar-putar di udara Bukttinggi itu tidak lain adalah presiden dan Inyiak H. Agus Salim, dua pimpinan yang mereka cintai. Oleh sebab itu rakyat terus berdesakan terus mendekati lapangan udara Gadut. Apalagi setelah tersiar kabar bahwa presiden hanya akan singgah sebentar saja di Bukittinggi kemudian melanjutan perjalanan ke India. Khawair tidak akan melihat wajah presidennya inilah mereka mendesak terus mendekati lapangan udara. Semua alat negara menjadi kewalahan menahan arus rakyat ini.
Sabtu, 02 Juni 2012
Senin, 21 Mei 2012
Rabu, 16 Mei 2012
Tan Vs Pemberontakan 1926-1927
Mestika Zed
Sejarawan Universitas Negeri Padang
Sejarawan Universitas Negeri Padang
DI pagi buta yang becek, awal 1927, kaum pemberontak
di Silungkang, Sumatera Barat, akhirnya mengikuti jejak rekan-rekan
mereka di Banten, yang meletuskan pemberontakan pada pertengahan
November 1926. Mereka menyerang kedudukan pemerintah.
Sasaran utama adalah menangkap dan membunuh pejabat
pemerintah, pejabat pribumi, dan kulit putih. Mereka merusak sejumlah
instalasi publik, seperti stasiun dan kantor pos. Juga berencana
membakar instalasi tambang batu bara dan menyerang semua simbol rezim
kolonial di kota itu.
Gerakan pemberontak itu dapat dipatahkan. Hanya
sebagian kecil sasaran yang terpenuhi. Selebihnya menyisakan prahara
berkepanjangan. Sampai 12 Januari 1927, lebih dari 1.300 orang
ditangkap. Ratusan bom dan senjata api disita. Kebanyakan mereka dibuang
ke luar Sumatera Barat, termasuk ke Digul. Ada pula yang dihukum
gantung.
Pemberontakan yang gagal di dua tempat (Banten dan
Sumatera Barat) pada 1926-1927 itu cukup mengguncang rezim kolonial di
Batavia. Mereka pun memburu pemimpin PKI dan onderbouw-nya, juga kaum
pergerakan secara keseluruhan. Sejak itu penguasa kolonial bertindak
bengis dan makin represif. Setiap anasir pergerakan nasional ditindas,
dan partai-partai politik yang tak mau bekerja sama dengan pemerintah
dilarang. Proses ini berjalan sampai akhir 1930-an.
Orang-orang PKI menuduh Tan Malaka sebagai biang
penyebab kegagalan pemberontakan. Ia dimusuhi dan dicap pengkhianat
partai, Trotsky-nya Indonesia. Padahal, sejak semula Tan bukan saja tak
setuju, melainkan juga berupaya mencegah rencana pemberontakan yang
dirancang oleh kelompok Prambanan itu. Kelompok ini terdiri atas tokoh
terkemuka PKI seperti Semaun (1899-1971), Alimin Prawirodirdjo
(1889-1964), Musso (1897-1948), dan Darsono (1897-?), yang
mendeklarasikan rencana pemberontakan di Prambanan, Solo, awal 1926.
Sebagai pemikir yang cemerlang dan otentik sejak masa
mudanya, Ibrahim Datuk Tan Malaka memiliki cukup alasan mengapa
pemberontakan harus dikesampingkan. Salah satu argumennya ialah bahwa
kekuatan pergerakan belum cukup matang. Masih diperlukan pembenahan
organisasi partai guna menggalang basis massa yang kuat dan meluas,
bahkan di luar kelompok komunis.
Tan, sebagai pemimpin paling terkemuka PKI saat itu,
menganjurkan untuk sementara waktu pemimpin-pemimpin gerakan memperkuat
organisasi dan tetap melakukan aksi-aksi ”pemanasan” dan agitasi di
tempatnya masing-masing. Pendirian ini telah diutarakannya kepada Alimin
dan kawan-kawannya.
Dari tempat persembunyiannya di Singapura, ia bahkan
telah menulis pandangannya lewat sebuah risalah bertajuk Massa-Actie
(1926, terbit ulang 1947). Dalam buku kecil itu ia menampik rencana
kelompok Prambanan seraya menyimpulkan bahwa rencana pemberontakan itu
merupakan tindakan blunder yang bisa menjadi bumerang terhadap partai
sendiri, bahkan juga terhadap semua partai nasionalis. Nyatanya memang
demikian. PKI, yang didirikan pada 1920, hancur, dan aktivis partai
meringkuk dalam penjara atau dibuang ke Digul.
Kondisi ekonomi Hindia Belanda saat itu juga sedang
membaik. Buruh cukup mudah mendapat pekerjaan, sebagian pemuda mendapat
kesempatan mempelajari bahasa Belanda dan menduduki kursi yang agak
empuk sebagai juru tulis. Pelengah hidup seperti bioskop, sepak bola,
dan dansa hula-hula mulai digemari. Ini berbeda dengan 1942-1945, ketika
sebagian besar pabrik gula tutup, kebun-kebun binasa, mesin pabrik
mati, rakyat tenggelam dalam penderitaan romusha Jepang. Pendek kata,
gagasan pemberontakan di tengah situasi ekonomi yang membaik itu tak
bakal laku.
Namun kegagalan pemberontakan itu tak lantas membuat
Tan memikirkan diri dan partainya sendiri. Baginya justru jauh lebih
penting memikirkan perjuangan mencapai kemerdekaan nasional. Ini antara
lain dapat diilustrasikan dari fakta berikut.
Pertama, selepas dari penangkapan pada 1922, dan
kemudian diusir ke luar Indonesia, ia sudah menjadi aktivis komunis yang
tak kenal lelah ”menjual” gagasannya memperjuangkan kemerdekaan
Indonesia. Hampir tak ada negara Asia Timur dan Asia Tenggara yang tak
dijejakinya. Ia juga pergi ke Moskow, jantung komunisme. Ia hidup
sengsara di tempat persembunyiannya dan selalu dikejar-kejar polisi
rahasia. Ia baru kembali ke Tanah Air secara diam-diam pada zaman Jepang
(1942).
Kedua, baginya partai hanyalah alat untuk mencapai
perjuangan, yakni kemerdekaan nasional bagi Indonesia. Selepas
pemberontakan yang gagal itu, Tan Malaka keluar dari PKI dan mendirikan
Partai Republik Indonesia (Pari) di perantauan Bangkok pada 1927. Pari
kemudian mati suri. Pada masa perang kemerdekaan (1947), ia mendirikan
Partai Murba. Alasan keluar dari PKI lalu mendirikan Pari sangat jelas,
yakni karena tak lagi sehaluan dengan rekan-rekan separtainya yang lama.
Di lain pihak ia menentang kebijakan Komunis
Internasional (Komintern) di Moskow. Sejak 1920-an Moskow tampak lebih
peduli memanfaatkan Komintern bagi kepentingan ”hegemoni” internasional
Uni Soviet ketimbang kepentingan perjuangan kaum nasionalis di
daerah-daerah jajahan. Komintern bahkan juga cenderung mencurigai Pan
Islamisme sebagai pesaing internasionalnya, sesuatu yang tak bisa
diterima oleh Tan Malaka.
Maka jelas kelihatan bahwa warna nasionalisme dalam
diri Tan Malaka jauh lebih kental daripada fanatisme terhadap ideologi
(komunisme). Kedekatannya dengan kelompok Islam sebagian karena pola
asuhan masa kecilnya sebagai orang Minang; sebagian lain, karena memang
kelompok Islamlah yang lebih diandalkannya sebagai mitra pergerakan
ketimbang kelompok nasionalis sekuler yang menurutnya cenderung
berperilaku borjuis.
Ketiga, Tan Malaka dianggap sebagai satu dari tiga
tokoh nasionalis yang pertama-tama menuangkan konsepsi tentang
konstruksi masyarakat bangsa yang dibayangkan (the imagined community)
di masa depan. Lewat sebuah risalah berjudul Naar de Republiek Indonesia
(Kanton, 1925) ia sudah membentangkan betapa pentingnya persatuan dan
betapa berbahayanya perpecahan.
”Ini harus kita cegah,” tulisnya. ”Akan tetapi tidak
dengan [cara] memberi khotbah tentang hikmah-hikmah yang kosong. Hanya
satu program yang benar-benar ingin memajukan kepentingan-kepentingan
materiil dari seluruh rakyat dan dilaksanakan secara jujur, yang dapat
membentuk solidaritas nasional, suatu solidaritas yang tidak hanya
menggulingkan imperialisme, tetapi juga dapat menjauhkan segala gangguan
untuk selama-lamanya...” (halaman 26, 28).
Meskipun tak menyembunyikan pendirian Marxisnya, Tan
Malaka memilih mengabdikan diri dan intelektualitasnya sebagai
nasionalis sejati yang ikut merajut gagasan tentang the imagined
community itu. Pemikirannya lebih dini juga lebih radikal daripada
Mohammad Hatta yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai
pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928). Kemudian juga
Soekarno yang menulis MIM (Menuju Indonesia Merdeka, 1933).
Dalam pemikiran ketiga tokoh ini, gambaran tentang
masa depan Indonesia itu memang belum utuh. Ia baru merupakan anggitan
yang masih memerlukan penyempurnaan sampai ”cetak-biru” Indonesia
Merdeka dapat dirumuskan, yaitu Pancasila dan Pembukaan UUD 1945
beberapa dasawarsa kemudian. Dan Tan Malaka menyadari itu, sebab ”aksi
untuk mencapai kemerdekaan nasional ini,” tulis Tan dalam Naar de
Republiek Indonesia, ”akan berlangsung lama, tetapi pasti membawa
kemenangan (1925: 65).
Sayangnya, Tan Malaka tak sempat melihat tahap akhir
perjuangan kemerdekaan, karena ia tewas secara tragis. Ironis, karena
setelah malang-melintang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk
memperjuangkan kemerdekaan negeri Indonesia, ia lalu ”dihujat dan
dilupakan” oleh bangsanya sendiri.
Kamis, 26 April 2012
Bung Hatta Dalam Kesederhanaan, Kemuliaan dan Kekuasaan
Djadja Sardjana
Disebut
juga Bung Hatta, Lahir di Bukittinggi pada tanggal 12 Agustus 1902
dan meninggal dunia di Jakarta tanggal 14 Maret 1980 adalah pejuang,
negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur
dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan
Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
Nama yang
diberikan oleh orang tuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar.
Anak perempuannya bernama Meutia Hatta pernah menjabat sebagai Menteri
Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dimakamkan di Tanah Kusir,
Jakarta.
Latar belakang dan pendidikan
Hatta lahir
dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatra Barat. Ia menempuh
pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi, dan kemudian pada tahun
1913-1916 melanjutkan studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di
Padang. Saat usia 13 tahun, sebenarnya beliau telah lulus ujian masuk
ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun ibunya
menginginkan Hatta agar tetap di Padang dahulu, mengingat usianya yang
masih muda. Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO di Padang,
baru kemudian pada tahun 1919 beliau pergi ke Batavia untuk studi di
HBS. Beliau menyelesaikan studinya dengan hasil sangat baik, dan pada
tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu
perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool (bahasa inggris:
Rotterdam School of Commerce, kini menjadi Erasmus Universiteit). Di
Belanda, ia kemudian tinggal selama 11 tahun.
Saat masih
di sekolah menengah di Padang, Bung Hatta telah aktif di organisasi,
antara lain sebagai bendahara pada organisasi Jong Sumatranen Bond
cabang Padang.
Pada tangal
27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar kehormatan akademis
yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada
di Yoyakarta. Pidato pengukuhannya berjudul “Lampau dan Datang”.
Saat
berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi,
sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond Cabang Padang. Kesadaran politik
Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah
atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang
menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis.
Pada usia
17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas
berangkat ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang
Prins Hendrik School. Di Batavia, ia juga aktif di Jong Sumatranen
Bond Pusat, juga sebagai Bendahara.
Hatta mulai
menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam
Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia
iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische
Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan
pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische
Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi
Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada
1913 sebagai eksternirana
Perjuangan
Saat
berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi,
sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini
Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan
politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran
terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal
pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus
Salim dalam Neratja.
Kesadaran
politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri
ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh
politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku
kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan
suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya.
Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat
menarik perhatian dan membakar semangat,†aku Hatta dalam
Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis
partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah
Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan
Melayu dan Peroebahan.
Pada usia
17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia
bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang
Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya
dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!†begitulah
judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin
lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan,
datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian
meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai
hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,†rutuk Hatta
lewat Hindania.
Pemuda
Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan,
pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh
pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi
dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan
Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota,
mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air.
Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal
memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu
diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun
sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian
pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan
redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan
penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat
diteruskan,†kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya.
Selama
menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan
percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta
berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika
pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa,
Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man
of Europe) memukul mundur tentara Yunani yang dijagokan oleh Inggris.
Rentetan peristiwa itu Hatta pantau lalu ia tulis menjadi serial
tulisan untuk Neratja di Batavia. Serial tulisan Hatta itu menyedot
perhatian khalayak pembaca, bahkan banyak surat kabar di tanah air
yang mengutip tulisan-tulisan Hatta.
Perangko Satu Abad Bung Hatta diterbitkan oleh PT Pos Indonesia tahun 2002
Perangko Satu Abad Bung Hatta diterbitkan oleh PT Pos Indonesia tahun 2002
Perangko Satu Abad Bung Hatta diterbitkan oleh PT Pos Indonesia tahun 2002
Perangko Satu Abad Bung Hatta diterbitkan oleh PT Pos Indonesia tahun 2002
Hatta mulai
menetap di Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam
Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, telah tersedia
iklim pergerakan di Indische Vereeniging. Sebelumnya, Indische
Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari ajang pertemuan
pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische
Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi
Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada
1913 sebagai eksterniran akibat kritik mereka lewat tulisan di koran
De Expres. Kondisi itu tercipta, tak lepas karena Suwardi Suryaningrat
(Ki Hadjar Dewantara) menginisiasi penerbitan majalah Hindia Poetra
oleh Indische Vereeniging mulai 1916. Hindia Poetra bersemboyan
“Ma’moerlah Tanah Hindia! Kekallah Anak-Rakjatnya!†berisi
informasi bagi para pelajar asal tanah air perihal kondisi di
Nusantara, tak ketinggalan pula tersisip kritik terhadap sikap
kolonial Belanda.
Di Indische
Vereeniging, pergerakan putra Minangkabau ini tak lagi tersekat oleh
ikatan kedaerahan. Sebab Indische Vereeniging berisi aktivis dari
beragam latar belakang asal daerah. Lagipula, nama Indische –meski
masih bermasalah– sudah mencerminkan kesatuan wilayah, yakni gugusan
kepulauan di Nusantara yang secara politis diikat oleh sistem
kolonialisme belanda. Dari sanalah mereka semua berasal.
Hatta
mengawali karir pergerakannya di Indische Vereeniging pada 1922,
lagi-lagi, sebagai Bendahara. Penunjukkan itu berlangsung pada 19
Februari 1922, ketika terjadi pergantian pengurus Indische
Vereeniging. Ketua lama dr. Soetomo diganti oleh Hermen Kartawisastra.
Momentum suksesi kala itu punya arti penting bagi mereka di masa
mendatang, sebab ketika itulah mereka memutuskan untuk mengganti nama
Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging dan
kelanjutannya mengganti nama Nederland Indie menjadi Indonesia. Sebuah
pilihan nama bangsa yang sarat bermuatan politik. Dalam forum itu
pula, salah seorang anggota Indonesische Vereeniging mengatakan bahwa
dari sekarang kita mulai membangun Indonesia dan meniadakan Hindia atau
Nederland Indie.
Pada tahun
1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan
Kolonialisme di Belanda, dan di sinilah ia bersahabat dengan nasionalis
India, Jawaharlal Nehru. Aktivitasnya dalam organisasi ini menyebabkan
Hatta ditangkap pemerintah Belanda. Hatta akhirnya dibebaskan,
setelah melakukan pidato pembelaannya yang terkenal: Indonesia Free.
Pada tahun
1932 Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club
Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan meningkatkan kesadaran
politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. Belanda
kembali menangkap Hatta, bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan
Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Hatta diasingkan ke
Digul dan kemudian ke Banda selama 6 tahun.
Pada tahun
1945, Hatta secara aklamasi diangkat sebagai wakil presiden pertama
RI, bersama Bung Karno yang menjadi presiden RI sehari setelah ia dan
bung karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena peran
tersebut maka keduanya disebut Bapak Proklamator Indonesia.
Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally
PADA tahun
1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan
tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada
sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat
penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman
tersebut.
Namun, uang
tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil
untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai
taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir
hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena
tabungannya tak pernah mencukupi.
Yang sangat
mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga
Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana
dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu,
sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu
Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha
yang menjadi kenalan Bung Hatta.
“Namun,
di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu
untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan
sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang
lain daripada kepentingannya sendiri,†kata AdiSasono, Ketua
Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah
keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini,
dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan
lain-lain.
Bung Hatta
meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap
menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada
kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak
berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa
Indonesiadapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini,
seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan
sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan
nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.
Pemimpin Bangsa yang Bijak
Bulan
Agustus ini adalah bulan keramat bagi bangsa Indonesia yang memasuki
usia 63 tahun. Salah satu proklamator kita, Bung Hatta, jika beliau
masih hidup, tanggal 12 Agustus tadi sudah memasuki usia 106 tahun.
Tidak salah kalau rubrik kita kali ini menyoroti keteladanan sang
pemimpin bangsa yang senantiasa berjuang bagi kepentingan negara
kesatuan Indonesia.
Berprinsip Teguh
Bung Hatta yang dikenal jujur, sabar, cerdas, dan penuh ide ini memegang teguh prinsip yang diyakininya. Sebagai contoh adalah prinsip demokrasi yang diyakini beliau dapat membantu perbaikan kehidupan bangsa. Untuk itu beliau ikut memperjuangkan status Indonesia sebagai negara kesatuan yang dapat mengakomodasi aspirasi semua golongan tanpa kecuali. Beliau ikut mendukung dicabutnya pengusulan pembentukan negara yang memihak pada golongan tertentu saja.
Keteguhan
Pak Hatta dalam memegang prinsip bukan semata-mata untuk kepentingan
pribadi, melainkan untuk kepentingan bangsa. Ketika beliau
berseberangan prinsip dengan pemerintah yang sedang berkuasa saat itu,
beliau rela mengundurkan diri guna mempertahankan kesatuan bangsa.
Berjuang Tanpa Kekerasan
Bung Hatta yang lembut hati, selalu mencari strategi untuk berjuang tanpa kekerasan. Senjata ampuh yang digunakan tokoh proklamator kita ini adalah otak dan pena. Dari pada melawan dengan kekerasan beliau lebih memilih untuk menyusun strategi, melakukan negosiasi, lobbying, dan menulis berbagai artikel dan buku untuk memperjuangkan nasib bangsa. Prinsip tanpa kekerasan ini muncul karena rasa hormat Bung Hatta pada sesama manusia, baik kawan atau pun lawan. Walaupun Bung Hatta tidak setuju dengan pendapat atau pun seseorang, beliau tidak lalu membenci orang tersebut, tetapi tindakan dan pendapatnyalah yang tidak beliau setujui.
Bung Hatta yang lembut hati, selalu mencari strategi untuk berjuang tanpa kekerasan. Senjata ampuh yang digunakan tokoh proklamator kita ini adalah otak dan pena. Dari pada melawan dengan kekerasan beliau lebih memilih untuk menyusun strategi, melakukan negosiasi, lobbying, dan menulis berbagai artikel dan buku untuk memperjuangkan nasib bangsa. Prinsip tanpa kekerasan ini muncul karena rasa hormat Bung Hatta pada sesama manusia, baik kawan atau pun lawan. Walaupun Bung Hatta tidak setuju dengan pendapat atau pun seseorang, beliau tidak lalu membenci orang tersebut, tetapi tindakan dan pendapatnyalah yang tidak beliau setujui.
Misalnya
saja, Bung Hatta yang sangat kuat keteguhan beragamanya tidak menyukai
hal-hal yang berbau duniawi yang pada saat itu umumnya berasal dari
negeri seberang. Tapi bukan berarti dia lalu membenci orang-orang asing.
Beliau memiliki banyak teman bangsa asing dan banyak pemikiran bangsa
asing yang positif (disiplin, etos kerja positif) yang beliau
adaptasi untuk kemajuan bangsa. Sikap ini menyebabkan Bung Hatta
dihormati oleh semua orang: kawan atau pun lawan.
Berusaha Sebaik Mungkin
Bung Hatta selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam segala hal, misalnya dengan bersikap hati-hati dan melakukan perencanaan yang matang. Semua tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dilakukan dengan sepenuh hati, dan direncanakannya dengan sebaik mungkin agar memperoleh hasil yang maksimal.
Bung Hatta selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam segala hal, misalnya dengan bersikap hati-hati dan melakukan perencanaan yang matang. Semua tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dilakukan dengan sepenuh hati, dan direncanakannya dengan sebaik mungkin agar memperoleh hasil yang maksimal.
Semua
pidato dan kata-kata beliau untuk publik pun disiapkan secara
profesional. Keputusan-keputusan diambil setelah sebelumnya dipikirkan
dengan saksama dan didukung dengan data dan informasi yang cukup.
Beliau tidak menginginkan terjadinya kegagalan yang disebabkan
kecerobohan atau pun karena kurang persiapan.
Berkarya Nyata
Bung Hatta merupakan tokoh yang selalu berkarya nyata. Salah satu karya monumental beliau adalah bentuk koperasi. Pemikiran ini dituangkan pada pembentukkan koperasi pengusaha batik, yang akhirnya sukses sampai saat ini. Koperasi tersebut berhasil mendorong kemajuan bagi pengusaha batik dan memberi mereka kesempatan untuk memperluas usaha dengan ekspor. Karya-karya lainnya adalah berbentuk tulisan.
Bung Hatta merupakan tokoh yang selalu berkarya nyata. Salah satu karya monumental beliau adalah bentuk koperasi. Pemikiran ini dituangkan pada pembentukkan koperasi pengusaha batik, yang akhirnya sukses sampai saat ini. Koperasi tersebut berhasil mendorong kemajuan bagi pengusaha batik dan memberi mereka kesempatan untuk memperluas usaha dengan ekspor. Karya-karya lainnya adalah berbentuk tulisan.
Pada saat
bangsa Indonesia masih berkutat untuk menumbuhkan minat baca, beliau
sudah jauh lebih maju, yaitu dengan memberikan teladan bagi bangsa
Indonesia untuk menumbuhkan budaya menulis. Kegiatan tulis-menulis ini
telah beliau lakukan sejak masih belajar di negeri Belanda sampai
akhir hayatnya. Tak terhitung lagi jumlah artikel dan buku yang telah
beliau tulis. Sebuah monumen intelektual berupa perpustakaan di
Bukittinggi pun telah didirikan untuk mengenang Pak Hatta.
Walaupun
Bung Hatta sudah tiada, beliau tetap hidup melalui pemikiran, prinsip,
dan kualitas pribadi beliau yang positif. Menjelang peringatan hari
kemerdekaan Indonesia, bersamaan dengan 100 tahun kelahiran tokoh
proklamator kita ini, sudah selayaknyalah kita teladani sisi positif
kualitas kepemimpinan beliau yang berpegang teguh pada prinsip,
berjuang tanpa kekerasan, berusaha melakukan yang terbaik, dan
senantiasa berkarya untuk kepentingan bangsa. Merdeka!
Sebagian Dikutip dari: http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Bung%20Hatta%20Dalam%20Kesederhanaan,%20Kemuliaan%20dan%20Kekuasaan&&nomorurut_artikel=156
[youtube http://www.youtube.com/wKamis, 12 April 2012
Selasa, 14 Februari 2012
TAMBOKOTO - MAJAPAHIT EMPIRE " Kilas Balik Kerajaan Majapahit".....
Setelah raja Sri Kertanegara gugur, kerajaan Singhasari berada di bawah kekuasaan Jayakatwang dari Kediri. Salah satu keturunan penguasa Singhasari, yaitu Raden Wijaya, kemudian berusaha merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya. Ia adalah keturunan Ken Arok, Raja Singhasari pertama dan anak dari Dyah Lembu Tal. Ia juga dikenal dengan nama lain, yaitu Nararyya Sanggramawijaya. Menurut sumber sejarah, Raden Wijaya sebenarnya adalah mantu Kertana-gara yang masih terhitung keponakan. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa ia mengawini dua anak sang raja sekaligus, tetapi kitab Nagarakerta-gama menyebutkan bukannya dua melainkan keempat anak perempuan Kertanagara dinikahinya semua
.
![]() | |
| Sisilah Raja Majapahit |
![]() |
| Surya Majapahit |
![]() |
| Mata Uang Majapahit |
Raden Wijaya wafat pada tahun
1309 digantikan oleh Jayanagar. Seperti pada masa akhir pemerintahan
ayahnya, masa pemerintahan raja Jayana-gara banyak dirongrong oleh
pemberontakan orang-orang yang sebelumnya membantu Raden Wijaya
mendirikan kerajaan Majapahit. Perebutan pengaruh dan penghianatan
menyebabkan banyak pahlawan yang berjasa besar akhirnya dicap sebagai
musuh kerajaan. Pada mulanya Jayana-gara juga terpengaruh oleh hasutan
Maha-pati yang menjadi biang keladi perselisihan tersebut, namun
kemudian ia menyadari kesalahan ini dan memerintahkan pengawalnya untuk
menghukum mati orang kepercayaannya itu. Dalam situasi yang demikian
muncul seorang prajurit yang cerdas dan gagah berani bernama Gajah Mada.
Ia muncul sebagai tokoh yang berhasil mamadamkan pemberontakan Kuti,
padahal kedudukannya pada waktu itu hanya berstatus sebagai pengawal
raja (bekel/bhayangkari). Kemahirannya mengatur siasat dan berdiplomasi
dikemudian hari akan membawa Gajah Mada pada posisi yang sangat tinggi
di jajaran pemerintahan kerajaan Majapahit, yaitu sebagai Mahamantri
kerajaan.
Pada masa Jayanagara hubungan
dengan Cina kembali pulih. Perdagangan antara kedua negara meningkat dan
banyak orang Cina yang menetap di Majapahit. Jayana-gara memerintah
sekitar 11 tahun, pada tahun 1328 ia dibunuh oleh tabibnya yang bernama
Tanca karena berbuat serong dengan isterinya. Tanca kemudian dihukum
mati oleh Gajah Mada. Karena tidak memiliki putera, tampuk pimpinan
Majapahit akhirnya diambil alih oleh adik perempuan Jayana-gara bernama
Jayawisnuwarddhani, atau dikenal sebagai Bhre Kahuripan sesuai dengan
wilayah yang diperintah olehnya sebelum menjadi ratu. Namun
pemberontakan di dalam negeri yang terus berlangsung menyebabkan
Majapahit selalu dalam keadaan berperang. Salah satunya adalah
pemberontakan Sadeng dan Keta tahun 1331 memunculkan kembali nama Gajah
Mada ke permukaan. Keduanya dapat dipadamkan dengan kemenangan mutlak
pada pihak Majapahit. Setelah persitiwa ini, Mahapatih Gajah Mada
mengucapkan sumpahnya yang terkenal, bahwa ia tidak akan amukti palapa
sebelum menundukkan daerah-daerah di Nusantara, seperti Gurun (di
Kalimantan), Seran (?), Tanjungpura (Kalimantan), Haru (Maluku?), Pahang
(Malaysia), Dompo (Sumbawa), Bali, Sunda (Jawa Barat), Palembang
(Sumatera), dan Tumasik (Singapura). Untuk membuktikan sumpahnya, pada
tahun 1343 Bali berhasil ia ditundukan.
Ratu Jayawisnuwaddhani
memerintah cukup lama, 22 tahun sebelum mengundurkan diri dan digantikan
oleh anaknya yang bernama Hayam wuruk dari perkawinannya dengan
Cakradhara, penguasa wilayah Singha-sari. Hayam Wuruk dinobatkan sebagai
raja tahun 1350 dengan gelar S’ri Rajasanagara. Gajah Mada tetap
mengabdi sebagai Patih Hamangkubhumi (maha-patih) yang sudah
diperolehnya ketika mengabdi kepada ibunda sang raja. Di masa
pemerintahan Hayam Wuruk inilah Majapahit mencapai puncak kebesarannya.
Ambisi Gajah Mada untuk menundukkan nusantara mencapai hasilnya di masa
ini sehingga pengaruh kekuasaan Majapahit dirasakan sampai ke
Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Maluku, hingga Papua. Tetapi
Jawa Barat baru dapat ditaklukkan pada tahun 1357 melalui sebuah
peperangan yang dikenal dengan peristiwa Bubat, yaitu ketika rencana
pernikahan antara Dyah Pitaloka-, puteri raja Pajajaran, dengan Hayam
Wuruk berubah menjadi peperangan terbuka di lapangan Bubat, yaitu sebuah
lapangan di ibukota kerajaan yang menjadi lokasi perkemahan rombongan
kerajaan tersebut. Akibat peperangan itu Dyah Pitaloka- bunuh diri yang
menyebabkan perkawinan politik dua kerajaan di Pulau Jawa ini gagal.
Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa setelah peristiwa itu Hayam Wuruk
menyelenggarakan upacara besar untuk menghormati orang-orang Sunda yang
tewas dalam peristiwa tersebut. Perlu dicatat bawa pada waktu yang
bersamaan sebenarnya kerajaan Majapahit juga tengah melakukan eskpedisi
ke Dompo (Padompo) dipimpin oleh seorang petinggi bernama Nala.
Setelah peristiwa Bubat,
Maha-patih Gajah Mada mengundurkan diri dari jabatannya karena usia
lanjut, sedangkan Hayam Wuruk akhirnya menikah dengan sepupunya sendiri
bernama Paduka S’ori, anak dari Bhre Wengker yang masih terhitung
bibinya. Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk kerajaan Majapahit menjadi
sebuah kerajaan besar yang kuat, baik di bidang ekonomi maupun politik.
Hayam Wuruk memerintahkan pembuatan bendungan-bendungan dan
saluran-saluran air untuk kepentingan irigasi dan mengendalikan banjir.
Sejumlah pelabuhan sungai pun dibuat untuk memudahkan transportasi dan
bongkar muat barang. Empat belas tahun setelah ia memerintah, Maha-patih
Gajah Mada meninggal dunia di tahun 1364. Jabatan patih Hamangkubhu-mi
tidak terisi selama tiga tahun sebelum akhirnya Gajah Enggon ditunjuk
Hayam Wuruk mengisi jabatan itu. Sayangnya tidak banyak informasi
tentang Gajah Enggon di dalam prasasti atau pun naskah-naskah masa
Majapahit yang dapat mengungkap sepak terjangnya.
Raja Hayam Wuruk wafat tahun
1389. Menantu yang sekaligus merupakan keponakannya sendiri yang bernama
Wikramawarddhana naik tahta sebagai raja, justru bukan Kusumawarddhani
yang merupakan garis keturunan langsung dari Hayam Wuruk. Ia memerintah
selama duabelas tahun sebelum mengundurkan diri sebagai pendeta. Sebelum
turun tahta ia menujuk puterinya, Suhita menjadi ratu. Hal ini tidak
disetujui oleh Bhre Wirabhu-mi, anak Hayam Wuruk dari seorang selir yang
menghendaki tahta itu dari keponakannya. Perebutan kekuasaan ini
membuahkan sebuah perang saudara yang dikenal dengan Perang Paregreg.
Bhre Wirabhumi yang semula memperoleh kemenanggan akhirnya harus
melarikan diri setelah Bhre Tumapel kut campur membantu pihak Suhita.
Bhre Wirabhumi kalah bahkan akhirnya terbunuh oleh Raden Gajah.
Perselisihan keluarga ini membawa dendam yang tidak berkesudahan.
Beberapa tahun setelah terbunuhnya Bhre Wirabhu-mi kini giliran Raden
Gajah yang dihukum mati karena dianggap bersalah membunuh bangsawan
tersebut.
![]() |
| Daerah Kekuasaan Majapahit |
Ironisnya, pertikaian keluarga
dan dendam yang berkelanjutan menyebabkan ambruknya kerajaan ini, bukan
disebabkan oleh serbuan dari bangsa lain yang menduduki Pulau Jawa.
(Disarikan dari Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, 1984, halaman 420-445, terbitan PP Balai Pustaka, Jakarta)
Senin, 13 Februari 2012
TAMBOKOTO - Sisi Mengharukan - Investigasi Tan Malaka di Hongkong
Sunday, February 5, 2012
Setelah
mengalami pertempuran antara pasukan Nippon dengan Tentara Ke-19 Cina di
Shanghai — perebutan Benteng Woosung, dimenangkan pasukan Jepang. Dari
Shanghai Tan Malaka, yang telah menggunakan nama Ong Soong Lee, beralih
ke Kowloon.
Daerah
perumahan Tan Malaka menumpang, di Szu Chuan Road, Shanghai, habis
terbakar dan dijarah orang isi rumah-rumah di blok tersebut — beruntung
paspor Tan Malaka atas nama Ong Soong Lee dapat ditemukan.
Paspor itu dikeluarkan oleh Pemerintahan Phillipina, Ong Soong Lee, keturunan bapak Orang Cina, dengan ibu Orang Filipino. Lahir di Hawaii.
Oktober
1932 Ong Soong Lee (dengan variasi 6 nama, menukar letak ke-3 suku nama
tersebut) plus lainnya, ada 13 nama samaran — ia menginap di Station
Hotel, Kowloon.
Dia
baru saja bertemu dengan teman dari Indonesia di Shanghai — nama
temannya itu Dawood, yang juga memakai nama Filopino, tinggal di
Hongkong. Dalam persiapan pertemuan di Hongkong, ada naluri akan
menemukan bahaya.
Setelah
berliku-liku menghilangkan jejak dalam pengejaran Polisi Rahasia
Hongkong (Inggris) — Tan Malaka tertangkap. Jalan keluar dari Kowloon,
hanya satu-satunya jalan ke luar, Canton — jalur kereta api itu juga
telah tertutup.
Tan
Malaka di-introgasi sebagai Ong Soong Lee, warga Philliina-Cina —
berpekan-pekan beberapa tim introgasi dari beberapa wilayah Jajahan
Inggris dikerahkan — Tan Malaka tetap tegar. Mereka datang melacak
Dawood di Hongkong.
Dalam
pemeriksaan Tan Malaka cerdik — menggunakan trik, “Inggris adalah
negeri demokratis”, mereka tidak boleh se-mena-mena memeriksa ‘Orang
Tertuduh” ……………… saat itu di Tiongkok goncang, seorang Komunis Rusia
sedang melakukan “mogok makan” memprotes penangkapan dan perlakuan
terhadapnya.
Tan Malaka bersikap, bahwa
pemerintah Inggris tidak bisa menekan siapapun orang yang akan
memerdekakan negerinya. Inggris selalu mempraktekkan tidak memulangkan
pelarian politik ke negeri asalnya. Seperti dilakukan terhadap Raja
Spanyol, Raja Siam, Praca-Dipok, dan Dr. Sun Yat Sen.
Tan Malaka ( sebagai Ong Soong Lee) berusaha jangan sampai ‘dikembalikan ke tangan musuh’.
“……………….. Tiada
berapa lama antaranya pintu kamar tahanan saya dibuka, Yang masuk ialah
tuan Dickenson, untuk pamitan. Dia mengajukan tangannya buat berjabatan
mengucapkan selamat tinggal, yang diucapkan dengan suara terharu
berikut dengan perkataan : ‘ I admire you very much for the attitude you
have taken’……… Tiadalah baik saya
sembunyikan di sini, bahwa beserta suaranya yang terharu itu, saya
saksikan matanya yang basah. Bukan sekali dua saya berpisahan dengan
orang Eropa dan mengalami tekanan tangan, suara dan air mata yang
berasal dari perasaan yang jujur .”
Dickenson
adalah salah seorang yang dikirim pemerintah Inggris untuk memeriksa
Tan Malaka, dalam mengusut jaringan Dawood yang datang ke Cina untuk
membawa pesan-pesan dari Indonesia.
Pritvy
Chan, keturunan India yang juga dikirim ke Hongkong — yang bersama-sama
Dickenson, berminggu-minggu memeriksa ‘Ong Soong Lee’ — berpamitan
dengan menjulurkan tangannya dari sebalik jeruji besi ………….” Will you forgive me, will you forgive me ……….. that would be upon my shoulder………..”
“Pritvy
Chan belum lupa akan tingkah lakunya pada malam penangkapan saya di
Kowloon. Pun Pritvy Chan tahu benar, bahwa almarhum Subakat mati dalam
penjara Belanda ……………!”
“……………Simpati
memang tiada mustahil, pun dalam penjara imperialism Inggris………………….
Tiadalah semua jantungnya dingin seperti air beku, tetapi ada yang
panas, bisa menggerakkan perasaan kemanusiaan. Saya masih ingat pada
suatu malam hari sesudah kantor tertutup kepala polisi Murphy sendiri
datang ke depan terali saya, pula penuh perasaan memberikan sebotol
lemonade yang dikeluarkan dari dalam kantongnya sendiri. Tak banyak
perkataannya dan terus dia pergi ……….”.
Kutipan di atas …………… rupanya menyusul
telah terlacaknya identitas ………. Ketika dikeluarkan dari selnya …………..
menuju ‘sel Cina’ Tan Malaka menyaksikan mayat orang hukuman Cina yang
baru digantung ………….. sementara ia berjalan menuju selnya yang baru itu
………….. para polisi saling berbisik,
………. ‘Tan Malaka — Tan Malaka’ ………….. Tan Malaka memasuki “sel buat Inlanders”. Sempit dan kotor penuh derita.
Tan
Malaka selama dalam pembuangan-pengasingan di Cina tidak selamanya
bertempat tinggal di hotel atau penginapan — ia sudah biasa ditampung
menumpang di rumah-rumah penduduk Cina yang terkait langsung-tidak
langsung dengan jaringannya. Bisa dapat sedikit nyaman di dalam kamar tidur, bisa pula tertidur di dalam gudang atau di depan kakus/WC.
Yang
paling mengharukan Tan Malaka tidur dilantai di atas selembar tikar
………….. seorang pengungsi Cina, tinggi besar, terbangun dari tidurnya di
atas bale-bale …………… melihat Tan Malaka bergelung kedinginan dalam
selimutnya yang pendek ………………. Cina itu mengikatkan selimut itu dalam
gelungan kaki Tan Malaka.
Tan
Malaka, Bapak Republik Indonesia itu — mengalami banyak penderitaan
dalam perjuangan ‘menuju Republik Indonesia yang Merdeka. Bahkan.
Ya
bahkan ia mati dibunuh Aparat Negara Republik Indonesia — jasad
jenazahnya pun dikubur di tempat yang kini dalam pelacakan, dan sedang
dilakukan test DNA dari tulang belulang sesosok mayat dari tempat
misteri itu.
[MWA] (Sejarah O Sejarah – 04) Bahan bacaan Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka, jilid 2/3.
Langganan:
Postingan (Atom)







