In Politik, Ekonomi, Historia on June 11, 2012 at 4:46 PM
MESKI Liem Soei Liong lahir hampir 5 tahun lebih awal dan
meninggal lebih lambat 4 tahun dari Jenderal Soeharto, keduanya seakan
ditakdirkan hampir seumur hidup –sejak mula pertama bertemu di
pertengahan tahun 50-an– bersama dalam kekuasaan negara di Indonesia.
Satu dalam kancah kekuasaan politik dan pemerintahan, sedang satu
lainnya dalam kekuasaan ekonomi. Minggu, 10 Juni 2012, kemarin, Liem
Soei Liong yang juga dikenal sebagai Sudono Salim, meninggal dunia di
Singapura. Menyusul Jenderal Soeharto,yang meninggal dunia lebih dulu
pada 27 Januari 2008.
LIEM
SOEI LIONG, ‘TELUR EMAS’. “Jenderal Soeharto mampu membuat orang-orang
di lingkaran kekuasaannya tidak bersatu dan saling berlomba satu sama
lain”. “Dengan ketrampilan tinggi dalam memainkan seorang ‘pangeran’
melawan ‘pangeran’ lainnya dan percaya akan perlunya suatu ‘ketegangan
kreatif’ di antara para pembantunya, Soeharto menerapkan gaya divide et
impera, pecah belah dan kuasai”. (foto download; suara pengusaha).
Sejak pertengahan tahun 1940-an, Liem Soei Liong –yang baru datang ke
Indonesia di tahun 1937, saat berusia 21 tahun– selain berdagang
kelontong dan menjual secara kredit, membantu memasok kebutuhan tentara
nasional Indonesia. Untuk tentara, Liem Soei Liong memasok pakaian,
obat-obatan, sabun, makanan sampai peralatan militer. Ini kemudian
berlanjut dengan kegiatan membekali Divisi Diponegoro di tahun 1950-an
yang berkedudukan di Semarang. “Seorang Letnan Kolonel yang bernama
Soeharto mempunyai tugas mengurus suplai divisi itu”, tulis Ahmad D.
Habir dalam buku Donald K. Emerson,
Indonesia Beyond Soeharto (1999). “Dalam urusan awal ini, antara orang Tionghoa imigran dan perwira pribumi, terletaklah benih kerjasama seumur hidup”.